Akan Kubalas Pengkhianatanmu, Mas!
ucap Cinderella dengan nada penuh keyakinan dan manipulatif, “ada seorang istri yang menunggu suaminya pulang. Bisa jadi saat ini dia sedang bersimpuh, memohon agar Tuhan melindungi lelakinya dari marabahaya. Juga ada seorang anak yang bahkan belum sempat mengenali aroma tubuh ayahnya sendiri.”
Felix menggertakkan gigi, wajahnya menegang, tapi genggamannya mulai goyah. Manik matanya gelisah bersama perasaan aneh yang menjalar, menggerogoti idealisme 'perayaaan pesta' malam ini.
“Jangan berbelit-belit!” geramnya.
Saat itulah Cinderella memanfaatkan celah. Sebuah tendangan cepat menghantam tulang kering Felix.