Dok, Please Cukup!
jawab Malik, terus memutar obeng meski dahinya sudah mulai berkeringat.
"Kamu yakin?" tanya Nindy, menahan senyum.
"Nindy, tolong pegangin aja, jangan komentarin terus," balas Malik, mendengus geli, meski dia sendiri tidak benar-benar kesal.
Pekerjaan yang seharusnya selesai dalam dua puluh menit itu jadi molor hampir satu jam penuh, bukan karena raknya benar-benar sulit dipasang, melainkan karena keduanya lebih sering berhenti untuk bercanda, tertawa, atau sekadar diam sejenak menikmati suasana ringan yang sudah lama tidak mereka rasakan sejak minggu-minggu penuh gejolak belakangan ini.