Lembaran Baru Kisahku
“Omar, sejak saat kamu meninggalkanku dan anak kita, kita sudah tidak mungkin lagi kembali bersama. Lagipula, orang yang lebih dulu berkhianat tidak berhak bicara tentang penyesalan. Semua ini adalah harga yang memang harus kamu bayar.”
Omar berusaha mencari-cari simpati di wajahku, berharap masih ada sedikit rasa cinta yang tersisa. Namun wajahku tetap dingin dan datar. Baru pada saat itulah Omar menyadari, aku benar-benar telah mati rasa padanya. Dia telah kehilangan aku sepenuhnya, tanpa peluang sedikit pun untuk kembali.
Mata Omar memerah, tubuhnya ambruk terduduk di tanah dengan putus asa. “Vera, aku menyesal, aku benar-benar menyesal .…”