GAIRAH MASA LAJANG
“Jadi Ko Aheng nggak marah jika aku mulai besok nggak bekerja di sini lagi?”
“Kenapa juga aku musti marah jika itu menyangkut dengan sekolahmu, kapanpun kamu mau kamu bisa kembali bekerja lagi di sini asal nggak mengganggu aktifitas belajarmu.”
“Terima kasih, Ko.” aku menyalami Ko Aheng lalu mencium tangan pria keturunan tiongha itu.
“Ya, sama-sama Ryan. Oh ya, sebentar!” ujar Ko Aheng sembari memasukan tangannya ke dalam saku, kemudian mengeluarkan uang Rp. 10.000,-.