OBSESI BARA
Namun mendengar kado istimewa membuat jiwanya makin meronta-ronta.
"Beberapa akhir ini ... Laila tidak menemui tunangan kamu itu, Mas?"
Bara mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"Maksudku, Sherin ... Mas."
Bara menggeleng seraya tersenyum. "Dia bukan tunangan, Mas."
"Sahabat?" tanya Laila yang langsung diangguki oleh Bara.
"Kau mencintainya?" Bara menggeleng sebagai jawaban. "Beneran?" tanya Laila memastikan. Namun lagi, Bara hanya merespon dengan anggukan dan gelengan.