Pembantu Rasa Nyonya
“Kenapa? Kamu kawatir kalau aku tidak menghendaki kamu dekat dengan orang tua?”
“Iya,” ucanya lirih. “Aku sering membaca, banyak menantu yang menganggap mertua sang istri bukan kewajibannya lagi. Sedangkan Rima walaupun perempuan, kan anak satu-satunya.”
Kedua tanganku meraih bahunya, menatap lekat mata besar yang indah ini. “Dengar Rima, ya. Saat dua orang bersatu, orang tua kamu adalah orang tuaku juga, begitu juga sebaliknya. Jadi jangan kawatir. Aku justru mengkawatirkan kamu. Aku mempunyai keluarga besar. Adik-adikku banyak. Ada dua keluarga, keluarga Papa Bram dan Mama. Apakah kamu tidak keberatan dengan hal ini?”