Menuju Matahari
Nasi, ikan bakar, dan sambal berceceran ke tikar.
“Ya, ya, aku memang bisa masuk ke dalam mimpimu,” kata pria itu datar. “Dan kenapa kau yang kupilih? Acak saja. Sebab sepertinya rupamu jelek, pantas dikasihani. Hidupmu pasti membosankan. Makanya aku bermurah hati memberimu jalan hidup yang agak seru sedikit saja. Dan kau sudah merasakan keistimewaanmu, kan? Kau tidak ikut kena jadi korban Sirep Gendam Sukma milikku, sehingga kau masih bisa memasak dan bicara sendiri seperti orang tidak waras…”