Kebangkitan Sang Putri Terbuang
Lilis kepala terbentur lantaisendiri dalam kegelapanrenungan sepertiga malamlirik tak terasa gelap pun jatuh
Suara lirih bagai bisikan angin malam keluar dari bibirnya, bait puisi yang indah namun menusuk.
“Bunga mekar di tepi jurang, meski diinjak, tetap menebar harum…
Ular hijau menari di balik kabut, meski dihina, tetap mengangkat kepala.”
Hening. Satu detik terasa begitu panjang sebelum petikan guqin mulai mengalun. Tubuh Lin Yue bergerak pelan, lalu semakin hidup.