Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Mati Untuk Hidup

Mati Untuk Hidup

Dan aku baru tersadar kalau aku tidak punya teman, juga tidak ada tempat lain yang bisa aku tuju. Dunia ini begitu luas. Layang-layang yang terbang bebas mungkin telah menyaksikan lebih banyak keindahan dibandingkan aku. Jauh di dalam hatiku, aku merasa sia-sia. Hidupku terasa membosankan. Semua yang aku sukai dirampas. Semua yang aku impikan terhenti. Menikah menurut norma sosial, tetapi membuat hidupku terperangkap dalam kebosanan dan menjadi bayangan di bawah cahaya orang lain.
7.9K viewsCompletedAdded to Library 165 Times as puisi hampa
Read
+Library
Ksatria Pengembara Season 2

Ksatria Pengembara Season 2

Hampa Membuat pemilik ilmu jalan menuju nirwana mampu membawa dan bisa hidup bahkan diruang hampa udara sekalipun. Tidak bergerak Membuat pemilik ilmu jalan menuju nirwana mampu mengunci apapun yang diinginkannya. 8 Jalan Kebahagiaan Membuat pemilik ilmu jalan menuju nirwana mampu menjelma menjadi beberapa orang.
9.5243.0K viewsOngoingAdded to Library 7.0K Times as puisi hampa
Show Reviews (65)
Read
+Library
Rmdni
kak izin promosi yah. ayo baca ceritaku kisahnya seru karena menceritakan Fantasi lokal, yang bakal memuat cerita lokal terus dipadukan dengan hal fantasi. judulnya: Legenda: Nusantara jangan lupa voted ya kak ......
KSATRIA PENGEMBARA
Jangan lupa mampir ke cerita baru saya berjudul : SI BUTA DARI SUNGAI ULAR 'Dalam kegelapan, sosok seorang putra. Dendam dan lara menutup kedua matanya. Dia terjerumus sebagai manusia. Dan bangkit menjadi Legenda'
Read All Reviews
Bintang untuk Angkasa

Bintang untuk Angkasa

Semesta bicara tanpa bersuara / Semesta ia kadang buta aksara / Sepi itu indah, percayalah / Membisu itu anugerah Seperti hadirmu di kala gempa / Jujur dan tanpa bersandiwara / Teduhnya seperti hujan di mimpi / Berdua kita berlari Semesta bergulir tak kenal aral / Seperti langkah-langkah menuju kaki langit / Seperti genangan akankah bertahan / Atau perlahan menjadi lautan Seperti hadirmu di kala gempa / Jujur dan tanpa bersandiwara / Teduhnya seperti hujan di mimpi / Berdua kita berlari
9.870.1K viewsCompletedAdded to Library 1.8K Times as puisi hampa
Read
+Library
Segala Harapan dan Kerinduan Hanyalah Kehampaan

Segala Harapan dan Kerinduan Hanyalah Kehampaan

Nanti malam, dia berniat membakarnya. Tengah malam, Adeline berjongkok di halaman. Satu per satu pakaian dan sepatu bayi itu dilemparkannya ke dalam api. Api melahap setiap pakaian kecil itu. Menatap kobaran api merah itu, tenggorokan Adeline terasa seperti dicekik seseorang hingga nyaris membuatnya tidak bisa bernapas. "Adeline, apa yang sedang kau lakukan? Kau sudah gila?"
2.5K viewsCompletedAdded to Library 59 Times as puisi hampa
Read
+Library
Pejuang Terhebat No. 1

Pejuang Terhebat No. 1

Kata-kata 'Ilusi Hampa Ilahi' melintas di kepalanya. Perasaan terperangkap dalam ilusi sudah biasa, tetapi ada juga sedikit ketidakbiasaan. Perasaan akrab itu tidak datang dari Fane, tetapi dari ingatan di kepalanya, yang dimiliki oleh master kuno. Ilusi Hampa Ilahi adalah serangan ilusi umum di Dunia Hampa Ilahi yang dapat menyerang pikiran seseorang dan menyerang korban berdasarkan ketakutan terburuk orang tersebut. Begitu mereka jatuh ke dalam ketakutan yang tak terhindarkan, mereka tidak akan bisa mendapatkan kembali kesadarannya.
9.17.0M viewsCompletedAdded to Library 243.3K Times as puisi hampa
Show Reviews (2320)
Read
+Library
Feeryal Faris
novel yang menarik tetapi entah kenapa penulis gagal meneruskan jalan ceritanya. sepatutnya jika perlu menamatkan ceritanya, harus diakhiri dengan kembalinya watak utama kepada keluarganya. persoalannya sekarang bagaimana situasi ahli keluarga watak utama terutamanya isteri dan anaknya??
Adriell Stanley
jalan cerita sangat baik cuma bab tamatnya sangat tak masuk akal...banyak persoalan² tak dapat di jawab di bab akhir.sangat kecewa tamat begitu saja.sekurang²nya biar la si fane merasa kebahagian yang tak terbatas diatas kepenatannya menuju ke pejuang no satu .
Read All Reviews
KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan

KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan

"Siapa yang tidak tahu tentang gaya reguler? Nomor satu dalam gaya reguler. Kamu pikir kamu siapa? Kamu bahkan tidak punya hak untuk mengikutinya!!" Lu Xiao terus mengabaikannya dan hanya mengambil kuasnya. *"Pasir padang gurun seputih salju, bulan di Gunung Swallow seperti kail.* *Ia memiliki otak emas. Segeralah melangkah di bawah musim gugur yang jernih."* Itu adalah puisi *Ma Shi* karya penyair Li He. Hanya dua baris, namun mengandung rasa kesunyian padang gurun yang mendalam.
1010.4K viewsOngoingAdded to Library 311 Times as puisi hampa
Read
+Library
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

Cahaya kecilnya memantul di dinding, menari lembut bersama bayangan daun di luar jendela ia menatapnya lama, lalu mengambil buku hariannya dan menulis satu halaman terakhir, “Kami sudah melewati hujan, badai, dan malam yang panjang. Tapi dari semua itu, aku belajar satu hal, pelita yang paling kuat bukan yang paling terang, melainkan yang tetap menyala bahkan ketika angin mencoba memadamkannya. Dion aku janji, pelita ini akan terus ada. Untukku, untuk Dinda, dan untuk siapa pun yang percaya bahwa kejujuran masih punya tempat di dunia.”
827 viewsCompletedAdded to Library 19 Times as puisi hampa
Read
+Library
Di Ambang Gila

Di Ambang Gila

Sebulan setelah transmisi terakhir, sesuatu yang kecil terjadi. Salah satu anggota Hub yang lebih muda, seorang penyair bernama Isha, sedang mengerjakan sebuah puisi tentang kehilangan. Dia berjuang dengan baris terakhir, merasa bahwa kata-katanya terlalu klise, terlalu tidak tulus. Frustrasi, dia menyerah dan pergi untuk mengambil secangkir teh.
1.0K viewsCompletedAdded to Library 21 Times as puisi hampa
Read
+Library
Legenda Dewa Pedang

Legenda Dewa Pedang

Pepohonan, reruntuhan, sisa bangunan—semuanya terhapus, meninggalkan jalur kosong yang memanjang seperti parit menuju ketiadaan. Bahkan udara tampak terkoyak. Gelombang kehampaan itu meluncur tanpa hambatan. Tidak cepat tapi tak terhentikan. Ia tidak menghancurkan dengan amarah. Ia menghapus dengan kepastian. Gelombang kehampaan raksasa itu terus meluncur ke arahnya, menghapus tanah, udara, dan sisa cahaya di jalurnya... namun ia tetap berdiri di tempatnya.
1027.1K viewsCompletedAdded to Library 895 Times as puisi hampa
Read
+Library
Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan

Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan

“Mustika! Mustika!” “Dimas!” Baskara membuka setiap pintu kamar satu per satu, memeriksa setiap sudut rumah tanpa terlewat. Kosong. Sepi. Tak ada seorang pun. Aku dan anakku benar-benar sudah pergi. Tanpa sepatah kata pun. Tanpa pamit. Baskara terduduk di sofa, suasana hatinya campur aduk.
10.0K viewsCompletedAdded to Library 389 Times as puisi hampa
Read
+Library
PREV
123456
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status