Selir Yang Terlupakan
Puisi itu bukanlah pujian manis tentang kemewahan istana atau keindahan musim semi seperti yang biasa didengarnya; puisi itu berbicara tentang dinginnya musim dingin, ketabahan yang tumbuh di tengah kesunyian, dan jejak kaki yang tak hilang meski tertutup salju tebal.
Saat sampai di akhir bait pertama, ia berhenti mendongak. Tatapannya begitu tajam hingga beberapa pelayan di dekatnya menundukkan wajah dengan canggung.
"Kau menggambarkan dinginnya embun beku seolah kau sendiri yang merasakannya menembus tulang," ucapnya pelan.
"Saya memang pernah merasakannya, Yang Mulia," jawabku jujur.