Ada beberapa karya yang mengusung tema 'aku tidak pantas dicintai' dengan begitu dalam dan menyentuh. Salah satu yang langsung terlintas di kepala adalah film 'Her' (2013) karya Spike Jonze. Ceritanya tentang Theodore, seorang penulis surat yang terisolasi secara emosional, merasa dirinya tidak layak untuk dicintai setelah perceraiannya. Hubungannya dengan Samantha, sebuah AI, justru menjadi cermin betapa sulitnya dia menerima kasih sayang. Film ini menggali kompleksitas rasa tidak berharga dengan begitu puitis, membuat penonton ikut merasakan betapa beratnya Theodore memandang dirinya sendiri.
Lalu ada juga drama Korea 'My Mister' (2018). Lee Ji-an, karakter utamanya, hidup dengan beban kesedihan dan rasa bersalah yang membuatnya menarik diri dari dunia. Dia merasa tidak pantas mendapatkan kebaikan, apalagi cinta, sampai bertemu dengan Park Dong-hoon yang perlahan membantunya melihat nilai dalam dirinya. Drama ini bukan sekadar tentang romansa, tapi lebih tentang penyembuhan luka batin yang membuat seseorang merasa tidak layak untuk bahagia. Adegan-adegannya begitu raw dan jujur, sampai-sampai sulit untuk tidak terbawa emosi.
Kalau mau yang lebih klasik, 'Eternal Sunshine of the Spotless Mind' (2004) juga layak disebut. Joel memutuskan menghapus ingatan tentang Clementine karena rasa sakit setelah putus, tapi sebenarnya lebih karena dia merasa tidak mampu mempertahankan hubungan yang sehat. Film ini seperti tamparan bahwa seringkali kita merusak sesuatu yang baik karena merasa tidak pantas memilikinya. Charlie Kaufman benar-benar ahli dalam mengangkat tema ini dengan metafora yang brilian.
Untuk anime, 'Neon Genesis Evangelion' sebenarnya juga menyentuh tema ini, terutama melalui karakter Shinji. Rantai rasa tidak berharga dan penolakan terhadap diri sendiri yang dialaminya begitu kuat, sampai memengaruhi setiap keputusannya. Adegan-adegan where he pushes people away karena takut disakiti atau merasa tidak layak benar-benar membuat hati remuk. Ini salah satu portrayl paling brutal tentang self-loathing dalam medium anime.
Yang menarik, hampir semua karya ini tidak sekadar menunjukkan karakter yang merasa tidak pantas dicintai, tapi juga proses mereka belajar menerima bahwa mereka berharga. Bagian itu yang selalu bikin karya-karya tersebut spesial—mereka tidak berhenti pada penderitaan, tapi menunjukkan secercah harapan bahwa semua orang, pada akhirnya, layak untuk dicintai.