Pelukan Hangat Tuan Presiden
Belum sempat Sera menundukkan kepala karena kecewa, Dokter Adriani kembali melanjutkan kalimatnya sembari menyandarkan punggung ke kursi.
"Namun, di sisi lain semua orang di rumah sakit ini juga tahu kalau kamu adalah seorang Ibu Negara. Aku tidak bisa mengesampingkan fakta dan realitas itu begitu saja, apalagi ketika absenmu kemarin menyangkut urusan negara."
Sera meremas ujung jasnya, guratan tidak nyaman tercetak jelas di wajah cantiknya.
"Tapi, saya tetap merasa tidak enak hati ke teman-teman koas yang lain. Mereka pasti menganggap saya mendapat perlakuan istimewa."