Album 'Purpose' memang seperti buku harian yang dibuka lebar oleh Justin Bieber. Dari lagu 'Sorry' yang menusuk sampai 'Life Is Worth Living' yang penuh perenungan, setiap track terasa sangat personal. Aku selalu terpaku bagaimana dia mengubah konflik pribadi—mulai dari masalah hukum sampai hubungannya dengan Selena—menjadi senjata kreatif. Yang paling mengharukan adalah 'Mark My Words', di mana dia seperti berjanji pada diri sendiri untuk berubah.
Ketika mendengar 'Purpose Tour' live, aura penyesalan dan pencarian makna itu semakin nyata. Bieber bahkan sering menangis saat menyanyikan 'Purpose'. Ini bukan sekadar album pop, tapi semacam terapi musik yang menusuk bagi siapa pun yang pernah merasa tersesat.