LOGINDendam kesumat membuat seorang Mafia bernama Edward Jesyleo melampiaskannya kepada Zanilia Rosyaliz. Awalnya, ia ingin membunuhnya. Namun, karena alasan tertentu dia berubah pikiran dan menjadikan Rosy sebagai tawanannya. Edward membius semacam obat yang membuat Rosy kehilangan ingatan masa lalunya. Edward mengaku bahwa dirinya adalah suami Rosy. Ia menipu dan memanipulasi Rosy dengan perasaannya yang palsu. Sayangnya, lambat laun perasaan yang dipupuk itu mulai tumbuh berkembang. Bagaimana kisah selanjutnya? Akankah Rosy menyimpan dendam setelah mengetahui bahwa Edward menipunya habis-habisan?
View MoreChapter 1
Andres P. O. V
"Confess your treacherous act in the sight of the goddess and man!” The slayer barked at a man whose head was resting on the decapitation stool, ready to be beheaded.
My insides churned the more my gaze lingered on him, and the pain transitioned into violence, threatening to rip me apart. He has been a critical part of my life, and now he will be beheaded right in front of me. He was Roberto Alonso, my father's best friend, beta and trainer.
Never in my wildest dreams, did I imagine that I'll be the one to issue the order for his execution.
Robert Alonso killed the alpha of the pack, and he wasn't just the Alpha, he was my dad, my fucking dad! A life for a life, they said. I don't fucking care. If I could kill three generations for my dad's life, I wouldn't think twice before doing it.
My mind drifted off to the gory scene of my dad taking his last breath. I had just graduated summa cum laude from MIT, so I took the quickest flight back to New Orleans to celebrate with my family.
I barged into my dad's office with a smile on my face, just to be met with an inconceivable scene, my dad's best friend, Robert Alonso, plunging his claws into my dad's throat. Blood spilled over from the severed veins, soaking his shirt. I watched in horror as he choked on his blood with shock still plastered on his face, and it all happened within a second.
Fury darkened the edges of my vision, and my body acted on its own. I pounced on Mr.Robert and used my blade laced with wolfsbane to give a fatal cut across his stomach and legs.
Caught off guard, he fell to the floor and howled in agony as the wolfsbane bit into his skin. I ran immediately to my father , scooping him into my arms. The pain in my chest intensified as I stared at his lifeless body in my arms.
With furrowed brows, I turned my head to a corner, where my shadow guards were stationed.
“Raphael” I called out with a voice I couldn't recognize, my eyes never leaving my dad's body.
“Yes boss,” he replied from the shadows.
“Take him to the dungeon” I ordered.
He dragged Roberto out of the room like a rag doll.
I took my dad to his room, expecting to meet my mother there, getting ready for her tea party, but to my greatest horror, mother was on the floor in her pool of blood. I froze. She has a deep cut on her neck, the same as the one on my dad's neck. Someone she trusted came into her room and did that to her.
"What the hell is going on." I cried out in anguish, a single tear sleeping down my cheek.
I staggered to my mom with my dad in my arms and crouched beside her . I placed my mom close to my dad. At that moment I felt nothing, my chest was devoid of any emotions, just emptiness and numbness.
I checked her pulse. Thankfully, she still had a pulse, even if it was faint.
I dialed our family doctor's number.
“Doctor Leonard, please come to the pack house now!”
“Yes,” he said in one breath.
This can't be happening, we've wronged no one, not even my dad's best friend. I stood up and walked to the door, dialing Kai's number. He picked it up on the first ring.
“Kai, are you with Rosita now?” I asked calmly, which contradicts the turmoil rampaging my mind.
“Yes, I'm with her, boss. She is with her college friends at a party.” He replied sharply.
Kai is my best friend and one of my most trusted shadow guards that was assigned to guard my sister, Rosita, who had an extraordinary talents for landing herself in trouble whenever she could.
“Andre, is everything alright?” He asked with concern.
“Everything is fine, be by her side twenty-four hours.” I said calmly.
“Yes, I'll do just that” he replied before I ended the call.
I returned to my parents side, and crouched down to lift my mom. I placed her gently on the bed. Then I took my father to the cold house, where his body will be kept until Rosita comes back to New Orleans for his burial.
Mr. Alonso has been by my father's side for as long as I could remember. He was my first trainer. When my family discovered that I was a late shifter, Mr. Alonso was tasked to make me as powerful as a werewolf. He trained me alongside werewolves at the age of ten.
He was undeniably the strongest in our pack, but my dad was chosen as the Alpha instead of him. He had willingly accepted the title of the beta, so why the sudden betrayal?"
The three generations of Mr. Alonso will be slaughtered like cows, and I'll make sure of that. I can accept being hurt, but my family, never. There are consequences for all actions, and the Alonso's is death.
“Earth to Andre!” I was brought back to reality by Rosita's voice.
She snapped her hands in front of me, trying to get my attention.
“Your knuckles are white, Andre, and you almost murdered the armrest.” She said, smiling as her dimples graced her face.
I could sense sadness in her voice, even if she tried to hide it by making jokes.
“Traitor! Confess!” The crowd continued shouting. Mr. Alonso's body was smothered in blood and his face disfigured to an unrecognizable shape, but he still laughed even in the sight of death, justifying his treachery.
“There is nothing for me to confess. I'm the strongest in the pack. I should've been the Alpha not......"
Before he could finish his sentence, I collected the sword from the slayer and beheaded him. The crowd went silent.
I walked away from the violent and bloody sight and faced the pack with a cold gaze.
“Anyone who believes they can defeat me, should come out and face me. Don't hide in the shadows like a coward. I expect a challenge soon.” I said calmly. My eyes lingered on the crowd, searching for blonde, silky hair.
Like the heavens could hear my prayer, I
caught sight of it leaving the arena. “Jasmine Alonso. She will be my trophy!”
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Edward, suaranya lembut dan penuh harapan. Edward menyadari ada yang salah dengan makanan yang telah ditelannya. "Makanan ini ... Kau ...." "Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak akan pernah mencintaimu," jawab Rosy, suaranya dingin dan tanpa emosi. "Kamu telah menghancurkan keluargaku, Edward. Kamu telah membuat kami menderita." Edward menggelengkan kepalanya, matanya memohon. "Aku tidak ingin menyakitimu, Rosy. Aku mencintaimu." Rosy tertawa, suaranya keras dan menusuk. "Cinta? Kamu tidak tahu apa itu cinta, Edward. Kamu hanya tahu bagaimana memanfaatkan orang lain untuk kepentinganmu sendiri." Edward mengambil langkah maju, tangannya terulur. "Rosy, tolong dengarkan aku. Aku tidak ingin kehilangan kamu." Rosy mundur, matanya menyipit. "Kamu tidak akan pernah memiliki aku, Edward. Dan sekarang, kamu akan membayar untuk apa yang telah kamu lakukan pada keluargaku." Dengan gerakan cepat, Rosy mengeluarkan pisau dari sakunya dan menusukkannya ke jantun
Mansion yang diledakkan oleh sindikat Victor tentu saja bukan satu-satunya rumah yang dimiliki Edward. Dia masih memiliki banyak rumah lain. Salah satunya yakni, rumah alami yang dia miliki dan menyatu dengan alam. Letaknya cukup esktream karena terletak di tebing pinggir pantai. Dari sana, siapa pun dapat menikmati sejuknya angin laut yang berhembus setiap kali membuka jendela kamar. Sayang sekali. Meskipun tinggal di tempat indah dan menenangkan, malam itu, Rosy tidak bisa tidur karena terus memikirkan rencana balas dendamnya. Ia berharap bisa terus bersandiwara, membuat Edward percaya bahwa ia adalah istri penurut yang jatuh cinta begitu dalam terhadap suaminya. Sementara itu, ia akan mencari kesempatan untuk membalas dendam. Rosy merasa hatinya terbakar oleh kemarahan dan kesedihan. Sementara di sisi lain, Edward merasa bersalah dan menyesal karena telah membunuh ayah Rosy. Ia berharap waktu dapat diputar kembali. Namun, meskipun mungkin, Edward pasti akan melakukan hal yang sama
"Rosy, apa kau yakin ingin kembali padanya? Edward tidak bisa dipercaya. Ia pembunuh ayahmu!" Davin berusaha mencegah Rosy. Davin mendekatkan langkahnya. Selangkah mendekati Rosy dengan langkah pelan, ekspresi serius memancar dari matanya. Cahaya sore yang lembut memancar melalui jendela, menciptakan suasana tegang. Rosy menatap Davin dengan tatapan sedingin es . "Aku tahu apa yang aku lakukan, Davin. Tenang saja. Aku tidak akan goyah. Demi membalaskan dendamku!" cetus Rosy tanpa gentar. Davin menggelengkan kepala. Dia menatap nanar wajah Rosy dengan tatapan mengasihani. Di masih belum rela membiarkan Rosy menerjang bahaya sendirian. "Terlalu berisiko! Apa kau tidak tahu Edward pria macam apa? Dia Ketua organisasi Black Devin. Jika dia tahu kau sedang mempermainkannya, Edward bisa membunuhmu kapan saja. Apa kau ingin menjadi korban berikutnya. Rosy, kembalilah bersamaku," bujuk Davin. Rosy merasa bimbang. Benar, Edward memang bukan orang yang bisa disinggung sembarangan. Apa lagi, d
Rosy memandang Edward dengan curiga, matanya seperti dua sumur air mata yang siap memancurkan air. "Katakan," titah Rosy. "Itu Pamanku, Victor. Dia selama ini mengincarku. Dia ingin membunuhku demi merebut semua aset yang kumiliki. Rosy, maafkan aku karena menempatkanmu dalam bahaya. Aku juga tidak mau melibatkanmu, tapi aku juga tidak bisa membuangmu begitu saja," jelas Edward. 'Andai itu dulu... Andaikan fakta tidak berubah. Andai kau bukan pembunuh ayahku, memilikimu pasti keberuntungan terbesar yang tidak dimiliki orang lain. Tapi, aku masih ragu. Sebenarnya, apa alasanmu ingin mempertahankanmu? Apa karena kau benar-benar mencintaiku, atau karena kau masih belum puas mempermainkan hidupku?' batin Rosy bertanya-tanya sembari menatap dalam kedua manik netra Edward yang berwarna kebiruan. "Tapi sebelum itu, bisakah kau memberitahuku sesuatu? Keluargaku... apa benar aku seorang yatim piatu?" tanya Rosy tiba-tiba. Dia mengungkit pernyataan yang pernah dikatakan Edward, mengatakan ba
Malam itu, kota terhimpit kegelapan. Lampu-lampu jalan yang terang benderang tidak mampu mengusir bayangan kematian yang mengintai. Tesla dan timnya melaksanakan rencana pembunuhan dengan tepat dan presisi. Mereka mengikuti Rachel ke dalam gang yang sepi, tak jauh dari pusat kota. Sedangkan Rachel
Seharian di rumah membuat Rosy merasa sangat bosan, apalagi akhir-akhir ini Edward jarang sekali pulang ke rumah untuk menemaninya. Masalah pekerjaan semakin menumpuk di kantornya, sehingga mereka pun mulai jarang berkomunikasi. Terlebih semenjak insiden terakhir yang menciptakan kerenggangan dalam
"Tuan, silakan tandatangan di sini." Kelvin menyodorkan sebuah dokumen ke meja kerja Edward. Tampak Edward yang hanya menatap dokumen itu dengan tatapan kosong, tanpa sadar dengan ucapan yang dikatakan oleh Kelvin. Pikirannya melayang entah ke mana. "Tuan? Tuan?" Kelvin berusaha menyadarkan Edwar
BAB 22 “Morning,” sapa Edward. Langkahnya menghampiri Rosy yang masih terbaring di ranjang. Kemudian, ia mengecup kening Rosy hingga membuat netra Rosy terpejam lagi karena merasa malu. Lagi-lagi, Edward selalu sukses membuatnya salah tingkah dan tersipu. “Apa kau tidur nyenyak?” tanya Edward. “E
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.