Setelah Kecelakaan, Aku Menikahi Pria Terkaya
Dalam perjalanan menjenguk kekasihku yang sedang lembur, aku mengalami kecelakaan hebat.
Aku meneleponnya puluhan kali untuk meminta pertolongan, tapi tak satu pun yang dia angkat.
Menatap gedung kantor kekasihku yang lampunya masih terang benderang tak jauh dari sana, aku pun tenggelam dalam keputusasaan.
Saat aku terbangun di rumah sakit, aku melihat sebuah unggahan dari bawahan kekasihku.
[Aku harus bagaimana kalau masih dimarahi atasan tengah malam begini?]
Foto yang diunggah, memperlihatkan bayangan dua orang yang terpantul di pintu kaca. Jarak di antara mereka sudah jauh melampaui batas profesional.
Dengan sisa-sisa harapan, aku kembali menghubungi kekasihku. Kali ini, panggilanku akhirnya tersambung.
Aku tidak bisa menahan isak tangis dan berkata, "Welly, aku kecelakaan ...."
"Ziana, aku masih sibuk. Biar asistenku saja yang mengurusnya, ya? Patuh dikit ya, aku akan pulang menemanimu setelah perjalanan dinas ini selesai."
Baru saja aku ingin bicara lagi, suaranya yang membentak memotong ucapanku, "Kendal! Perjalanan dinas hanya boleh membawa satu koper, kamu bawa tiga koper itu mau pindahan atau liburan?"
Kendal, anak magang yang baru direkrut oleh Welly.
Aku menatap layar ponsel yang telah diputus sepihak itu, air mata mengering di wajahku.
Aku pun mengalihkan panggilan ke nomor orang tuaku dan berkata, "Perjodohan yang sudah keluarga atur itu ... aku setuju."