LOGIN“Jangan disini, Darel! bagaimana jika istrimu mengetahui hubungan kita?” “Maksudmu, Zola? Kau tenang saja. wanita bodoh itu tidak akan tahu hubungan kita.” Zola mencoba menulikan pendengarannya. Namun tetap saja, suara-suara itu tetap terdengar menyayat hati. tanpa melihat, Zola dapat membayangkan saat ini suaminya tengah menikmati ciuman bibir dengan wanita yang tidak lain adalah wanita masa lalu suaminya. Diguncang fakta perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya tidak lantas menghancurkan dunia Zola. Wanita cantik itu berusaha tetap tegar dibalik rasa trauma masa kecilnya yang tidak mampu diingatnya. “Selamat datang di neraka pernikahan antara aku dan Darrel. kau sukarela menjadi bahan bakarnya, jadi bersiaplah untuk mati terbakar di dalamnya! “ucap Zola pada wanita yang tidak lain adalah selingkuhan suaminya. “Jangan merasa selalu benar. terkadang, kita juga bisa menjadi penyebab luka bagi orang lain. "ucap Edgar Valden, pria yang dulu pernah menolong Zola yang hampir kehilangan nyawa. Mampukah Zola Maharani mempertahankan rumah tangganya dengan Darel Mananta atau Zola justru terjebak cinta yang ditawarkan oleh Edgar Valden?
View MoreZyra’s POV —
I should’ve known something was wrong the moment Marcus refused to look at me.
Three years bartending at Obsidian had made me an expert at reading people. The show-offs, the liars, the sweet talkers, the ones hiding something in their pockets or behind their smiles. But Marcus? He was the calm in the middle of the chaos. Predictable. Dry. Annoyingly unshakable.
Tonight, he looked nervous.
"Zyra." He appeared beside me as I was restocking glasses, his voice low. "VIP lodge needs a delivery."
My hands stilled on the shelf. "The lodge upstairs?"
A muscle in his jaw ticked. “Is there another one?”
The air between us felt suddenly cooler, despite the heat of bodies dancing under neon lights. Even the crowd seemed to fade into a distant blur.
“Why can’t their bartender take it?” I asked, keeping my voice steady even as I felt my pulse rise.
“She called in sick.” His gaze slid past mine. “Just go up, drop the drinks, and come straight back down. Don’t stay. Don’t talk. Don’t look around.”
A warning disguised as instructions.
“Marcus—”
“It’s not a request.” He walked away too quickly, like he didn’t want to answer what he knew I was about to ask.
Something twisted in my stomach.
People came here for danger, not fun; everyone knew this place belonged to men whose names were spoken with lowered voices. But I needed the money. As long as I followed the rules, I was safe. And Damien’s education depended on it. But the fear still linger in me, my heart racing twice the normal.
Jen brushed past me, touching my arm. “You okay?”
“No. Yes. I don’t know.” I swallowed. “Has anyone ever asked you to deliver to the lodge?”
She went rigid. “God, no.” Her voice dropped. “If they ever did, I’d quit on the spot.”l
“Why?” I whispered.
Her eyes darted toward Marcus, then back to me. "Nothing. Forget it."
But she'd already turned away, suddenly very interested in slicing lemons. I looked at the rest for an advise or something to prepare me but all I got was…..
Silence.
No one looked at me. No one spoke. It was as if the question had never been asked.
A chill crawled over my skin.
I gathered the Dom Pérignon, locked-up bottles meant only for the highest of high rollers and set them on the tray with hands that weren’t as steady as I wanted them to be.
Just drop them off. Get your paycheck. Damien needs new textbooks.
The staircase to the VIP lodge hid behind a plain door, quiet and heavy like it was guarding secrets. With every step, the club’s noise faded, swallowed by thick carpet and dim amber lights.
Up here, the world felt… different. Thicker, expensive, like even breathing it cost money.
Four identical black doors lined the hall, each with a brass plaque I couldn’t quite read. But the last one had a metal plate:
Knock twice. Wait for acknowledgment.
I knocked.
Silence.
I knocked again.
This time I heard urgent voices from behind a second, heavier door inside the room.
The door wasn't fully latched. When I knocked the third time, it drifted open an inch.
The voices were coming from behind it. Clear enough now that I caught fragments:
"—can't move it until—"
"—too many questions already—"
"—loose end—"
My breath caught. I should not be hearing this.
The voices stopped.
"Did you hear something?"
My breath stopped.
“Check the door.”
I stumbled backward, my hip catching the corner of a side table. The champagne bottles rattled.
Footsteps, heavy and quick, moving toward the inner door.
Just as I was about to take another step, a hand closed around my wrist from behind.
There was a pause, then he breath against my ear, so quiet I almost didn't hear it:
“Zyra, Leave now.”
That was all it took.
Something in his tone sliced through me, deep, commanding, almost… protective?
I didn’t see his face.
Didn’t dare turn around.
I bolted, sprinting down the staircase, heart pounding like it wanted to break free from my chest. I didn’t stop until I reached the noisy, crowded part of the club again, gasping for air, palms sweaty, mind racing.
My shoes skidded on the stairs, one hand gripping the railing as I half-fell down to the main floor. The music swallowed me whole.
I pressed myself against the wall near the staff entrance.
My wrist still burned where he’d touched me, an imprint that felt too deliberate to be accidental.
But as the panic slowly faded, one thought kept drilling itself into my mi
nd, louder and sharper with each heartbeat:
Those men behind the door never said my nam
So how did he know it?
Hari berlalu begitu saja, tidak ada yang menarik bagi Zola kecuali rasa berkecamuk dalam hatinya. walaupun hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh ayahnya, tetap saja Zola merasa sedikit kecewa. sebentar lagi dunia akan tahu, bahwa ayahnya memiliki wanita lain dan tentu saja, buah hati dengan wanita itu. ya, siapa lagi kalau bukan Isa. pria yang sudah ia anggap sebagai sahabat dan kakaknya itu kini justru berubah statusnya sebagai adiknya. pria itu akan menyandang status sebagai seorang anak Joyokusumo.“Sudah siap, sayang?” Zola mendongak, menatap wajah teduh ibunya yang terlihat begitu cantik dalam balutan kebaya berwarna gold.Zola tersenyum tipis, dadanya masih saja sesak walau ia sudah berusaha untuk meyakinkan diri bahwa ia sudah siap dengan semuanya. tanpa menunggu arahan ibunya, Zola bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar menuju ke tempat Resepsi Pernikahan Isa dan Rumi. Zola memang sengaja tidak menemani Rumi saat acara akad nikah, bukan tanpa alasan. Ia lebi
Zola bersandar pada kursi depan mobil, tepatnya di samping Edgar yang saat ini tengah menyetir. suasana terasa begitu hening sesaat setelah keduanya sampai detik ini tidak ada yang memulai pembicaraan. Zola memejamkan mata, meresapi kejadian yang tadi terekam jelas dalam otaknya, bagaimna telatennya Edgar saat menyuapkan makanan. tanpa Zola sadari, pria di sampingnya terlihat mencuri pandang dan mendapati Zola tersenyum sendiri.“Apa yang sedang kau lamunkan, sayang? kau tersenyum begitu manis dan rasanya tidak adil jika tak kau bagi padaku,” deretan kalimat yang diucapkan oleh Edgar membuat Zola membuka mata dan langsung menatap sang pujaan hati.“Hanya mengingat kejadian yang lucu.” Sahut Zola berusaha untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. malu, rasanya jika ia harus jujur pada Edgar soal hal yang baru saja ia lamunkan. jika sampai kekasihnya itu tahu, dapat dipastikan bagaimna Edgar akan berbangga hati dan besar kepala.“Benarkah? tap-”“Sudahlah, jangan diperpanjang!” sela Zola
Zola hanya dapat memandang penuh dengan banyak pertanyaan di kepalanya. saat ini, Zola tidak dapat mengalihkan pandangannya pada Edgar yang terlihat begitu lahap menyantap makanan yang sudah tersedia diatas meja. sesekali Edgar melirik ke arah Zola yang terlihat diam saja dan belum menyentuh makanannya. Edgar tidak terlalu ambil pusing, ia terus saja menikmati makanannya. "Apa kau sering datang ke tempat seperti ini?" akhirnya Zola memutuskan untuk bertanya. ia sudah tidak tahan lagi melihat ekspresi wajah Edgar yang terlalu menikmati makanan. bukan jijik karena berada ditempat warung lesehan seperti ini, lebih ke rasa penasaran karena Zola sendiri belum Pernah makan ditempat seperti ini. apalagi seorang Edgar Valden, seorang pebisnis kaya raya. "tidak sering, hanya saja orang tuaku pernah sesekali mampir ke tempat seperti ini dan jujur saja, aku merasa lidahku cocok untuk makanan seperti ini. apa ini terlihat aneh?" Zola menggeleng, terlihat dipaksakan dan terkesan aneh dengan sen
Rumi tidak memperpanjang perdebatannya dengan Isa. mungkin untuk saat ini, ia harus sedikit mengalah untuk mengesampingkan kepentingan sahabatnya sendiri. walau Rumi tidak tahu pasti, apa yang membuat Isa merubah sifatnya menjadi lebih membenci Zola. Rumi juga tidak ingin munafik, pernikahannya sudah tinggal menghitung hari dan ia tidak ingin pernikahannya hancur berantakan. katakanlah ia egois, tapi Rumi begitu mencintai Isa. *** Zola menatap layar laptopnya sembari menghela napas kasar. pekerjaan yang menumpuk disertai dengan sekelumit permasalahannya membuat tubuh dan pikirannya seperti diperas habis. ingin sekali rasanya pergi ke suatu tempat yang menenangkan diri, tapi Zola terlalu gengsi jika harus menghubungi terlebih dahulu Edgar. Ia ingin agar pria itu berinisiatif untuk menghubungi dirinya terlebih dahulu. “Hai, apa aku mengganggumu?” Zola mengangkat wajah, menatap tak percaya jika pria yang baru saja menghiasi pikirannya, justru kini berdiri di ruangannya. dengan senyu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews