Ada satu nuansa yang langsung terasa setiap kali kutipan-kutipan Fiersa menyentuh hatiku: ia menggambar perasaan dengan benda-benda sehari-hari sehingga emosinya menjadi konkret dan mudah dirasakan.
Gaya metafora Fiersa sering memakai alam—laut, hujan, jalanan—sebagai cermin keadaan batin. Ketika ia menyebut 'laut' atau 'kapal' misalnya, itu jarang soal laut secara fisik; lebih ke rasa yang luas, tak terjamah, dan penuh rindu. Metafora seperti itu bekerja ganda: pertama, mereka memberi gambaran visual yang kuat sehingga pembaca bisa 'melihat' perasaan; kedua, mereka memberi ruang kosong untuk pengalaman pembaca sendiri—kamu menempatkan ingatanmu di sana dan tiba-tiba kutipan itu terasa milikmu.
Kalau saya menelaah lebih jauh, metafora-metafora itu juga sering membawa unsur perjalanan—pergi, pulang, tersesat—yang membuat setiap kata terasa bergerak. Itu bukan cuma dramatisasi, melainkan cara merapikan emosi yang rumit jadi sesuatu yang pendek dan menyakitkan indah. Aku sering menyimpan satu baris dan membiarkannya bergaung di kepala; baris pendek itu bisa jadi penawar atau malah pengingat luka. Pada akhirnya, metafora Fiersa mengajak untuk merasakan, bukan sekadar mengerti, dan aku selalu pulang dengan perasaan yang lebih ringan atau lebih rindu, tergantung hari.