IBUKU PELAKOR
kataku panjang lebar, seperti orang yang sedang berorasi.
"Arsen pasti bangga punya Bunda kayak Kakak," kata Satria, memujiku lagi.
"Yuk kita pulang. Sudah mau Maghrib," ajakku. Kami sudah terlalu lama mengobrol. Aku berharap, Satria sama seperti aku. Belajar menerima ketentuan yang sudah tertulis di garis tangan kami.
★★★KARTIKA DEKA★★★
Malam ini mataku sulit sekali terpejam. Kulihat jam yang ada di dinding kamar, sudah lewat jam sebelas malam. Suasana juga sudah sangat sepi. Nenek dan Bulek Ratmi sepertinya sudah tidur.