Rumah Tengah Hutan
Kami tidak perlu menunggu kedatangan siapa-siapa, karena memang keluarga kami sudah lengkap dengan hanya berkumpulnya tiga orang.
Kami siang ini berbincang-bincang ringan, tentunya dengan iringan kopi panas kas desa. Kawan, di desa saya tidak ada yang namanya penggilingan kopi, sehingga kami masih menggunakan alat manual, penumbuk kopi manual. Jadi, kopi yang kami minum agak kasar-kasar seperti itu. Mungkin untuk yang belum terbiasa menjadi kurang nyaman. Tapi, saya dan keluarga sudah terbiasa dengan kopi kasar seperti ini sejak kecil. Jadi, yahh... enak saja, tidak ada yang perlu dikurangkan dari rasanya.
“Kapan kamu kembali ke pondok, Mal?” tanya ibu saya.
Hot Chapters