MENANTU SAMPAH : WARISAN KAISAR NAGA PRIMORDIAL
Tatapan matanya kembali menajam, mengunci sosok pria tua di hadapannya.
"Leluhur Canghai," suara Long Chen bergaung tenang. "Kamu akhirnya merangkak keluar dari lubang kematianmu."
Leluhur Canghai tidak langsung menyerang. Dia melambaikan lengan bajunya yang longgar, dan entah bagaimana, sebuah meja batu giok hijau lengkap dengan dua cangkir teh pualam mendadak muncul di atas kehampaan pelataran, melayang secara statis di antara mereka. Aroma teh melati yang segar menyeruak, menekan hawa anyir darah dan belerang yang tersisa.