Suami Adikku, Ayah Anakku
Ditambah, aku juga sudah mengunjungi Inara dan Ayah.
"Aku butuh kamu," kataku terus terang. Melihat binar matanya yang mendadak terang, aku menambahkan, "Lumayan untuk bantu cuci piring dan sapu di rumah."
Gatan menunduk untuk menyembunyikan senyum. Aku melihat kedua tangannya mengepal.
"Ternyata, ngurus semua sendirian enggak semudah itu. Cuma aku yang merawat Damar, rasanya enggak bisa. Anak itu bahkan demam cuma karena seminggu enggak ketemu Papaknya."