Tukar Ranjang
Jemarinya menyusuri pita merah yang melingkari batang bunga—warna yang sama dengan kelopak, merah menyala, menyakitkan untuk dipandang terlalu lama.
Nadira kembali menatap kartu di tangannya. Tulisan “N” di akhir pesan itu terus menari-nari di matanya.
“Penyesalan? Apa bunga ini dari Nirwan?” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Tapi dia menyesal atas apa? Kenapa Nirwan harus meminta maaf dengan cara seperti ini? Aku masih tidak mengerti, dari cerita wanita itu dan apa yang tengah aku alami semuanya menjadi bertolak belakang.”