TEROR SINDEN GHAIB
Dari sudut ruangan, terdengar suara lirih nyanyian pelan, sendu, melengking halus seperti suara sinden yang bernyanyi tanpa gamelan.
Bulan menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Bagas memejamkan mata rapat-rapat. Hileon, yang duduk tak jauh dari Aruna, refleks merapat, bahunya bersentuhan dengan bahu Aruna.
Nyanyian itu semakin jelas.
“Kembalikan…”
Satu kata, tapi menggema dari segala arah.
Embun terisak keras. “Dia marah… karena tusuk itu dipindahkan lagi. Bukan cuma aku yang ambil, Run. Ada yang lain. Ada yang lebih dulu.”
الفصول الرائجة