Kecantikan itu subjektif banget, dan aku belajar ini setelah bertahun-tahun terobsesi dengan standar sosial. Dulu, aku selalu bandingkan diri dengan karakter anime seperti Mikasa dari 'Attack on Titan' atau model di majalah. Tapi suatu hari, temanku bilang, 'Kamu itu kayak sunset—beda setiap dilihat, tapi selalu bikin orang berhenti sebentar.' Itu bikin aku sadar: kecantikan nggak cuma soal proporsi wajah atau tubuh. Aku mulai eksplor fotografi self-portrait, dan ternyata ekspresi tawa atau tatapan pensif itu justru yang paling sering dipuji orang. Sekarang, aku pakai tiga patokan: apakah aku nyaman dengan diri sendiri, apakah orang tersenyum saat berinteraksi denganku, dan apakah ada 'cahaya' yang keluar dari caraku menikmati hidup. Kalo tiga ini ada, sisanya cuma bonus.
Aku juga suka eksperimen dengan gaya rambut atau makeup ala karakter game favorit kayak Tifa Lockhart. Lucunya, justru saat aku nggak mencoba jadi 'sempurna', komplimen malah berdatangan. Mungkin karena saat itu aku benar-benar 'hidup' dan autentik. Jadi, daripada sibuk ukur diri dengan standar orang lain, mending cari tau versi terbaik dari diri sendiri—bukan yang paling cantik menurut orang, tapi yang paling bikin kamu merasa berarti.