Hati yang Kau Sakiti
Namun, ia menghela napas panjang, mencoba menahan sesak di dadanya, Kiran memberanikan diri untuk melangkah maju, dan perlahan meletakkan bunga di atas pusara Maria.
"Ma … maafkan aku, maafkan aku bila aku tidak bisa menjaga Mama."
Suaranya terhenti sejenak. Mata Kiran sudah memerah, hatinya terasa sesak oleh rasa bersalah yang menumpuk selama bertahun-tahun. Dia mengulurkan tangan, mengelus batu nisan itu dengan penuh perasaan. Dingin, keras, dan tak bernyawa—sama seperti hubungan mereka yang dulu pernah dekat. Namun, kini hanya tinggal kenangan.