Selir Yang Terlupakan
Ciuman itu bukan sekadar pertemuan bibir, melainkan pernyataan kepemilikan yang tak terbantahkan.
Tangannya merambat dari pinggangku ke punggung, lalu menyusup ke sela-sela rambutku sambil mendekapku erat ke dinding kayu paviliun. Bunyi gesekan halus sutra hanfu yang bertabrakan dengan jubahnya terdengar begitu jelas di tengah keheningan malam yang tiba-tiba terasa magis.
Saat ia melepaskan tautan bibir kami sejenak, ia mendaratkan kecupan hangat di kulit leherku yang sensitif, napasnya terasa panas dan tak beraturan.