Ada sesuatu yang sangat mengganggu tentang mimpi naik tangga yang tak kunjung sampai puncaknya. Rasanya seperti berlari di tempat, energi terkuras tapi tidak ada kemajuan. Yang membantu saya pribadi adalah ritual sederhana setelah bangun: menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata, mengingatkan diri bahwa itu hanya mimpi. Lalu, saya biasanya membuat teh hangat dan menuliskan apa yang dirasakan dalam buku harian. Proses menulis itu seperti melepaskan beban dari pikiran bawah sadar.
Terkadang saya juga menganalisis apakah ada pola dalam kehidupan nyata yang mirip dengan mimpi itu—apakah ada tujuan yang terasa terlalu berat atau tidak tercapai? Dengan mengidentifikasi sumber stres sebenarnya, mimpi buruk justru menjadi alarm alami untuk mengevaluasi hidup. Uniknya, sejak rutin melakukan ini, mimpi serupa justru berubah menjadi mimpi di mana saya akhirnya berhasil mencapai puncak tangga.