Mantiko Sati - Kitab 1: Harimau Dewa
“Bergelora, membakar apa saja yang berani mendekatinya. Tapi rembulan…, rembulan terlalu lembut untuk berlaku kasar pada makhluk duniawi. Dia tetap tenang, meski asap kabut menutupi, walau mendung pekat menghalangi, dia tetap tenang dengan cahayanya yang lembut. Cahaya yang lembut yang juga mampu memberikan ketenangan pada setiap makhluk yang mencari makan di malam hari.”
“Seperti pelanduk?”
“Seperti pelanduk[1],” ulang Sialang Babega dan mengusap-usap kepala sang anak. “Tidakkah kau merasa tenang, Buyung? Kau lihatlah rembulan itu, Nak.”
Buyung mengikuti jari telunjuk sang ayah. Sang bocah tersenyum menatap purnama yang begitu indah di atas sana.
“Kau merasa tenang?”
Hot Chapters