Sentuhan Adik Sahabatku
eslestaending novel jangan salahkan aku selingkuhnovel jangan salahkan aku selingkuhjanda selingkuhnovel jangan salahkan aku jika selingkuh
Ruangan luas yang menenangkan itu didominasi kayu jati tua dan aroma kulit dari sofa hitam yang mengilap.
Di sudut, sebuah kabinet bar tertanam rapi di dinding, lengkap dengan rak kaca dan lampu temaram yang menyorot deretan botol mahal—bukan wine murahan. Ada single malt whisky berusia dua puluh tahun, cognac impor; botol-botol yang lebih sering jadi pajangan simbol status daripada benar-benar disentuh.
“Rasanya aku butuh minuman...” bisik Herman sambil melangkah mendekati rak itu. Tangannya terulur pada sebotol single malt.