SERULING SAKTI SANG NAGA
tanya Yu Ping memecah kesunyian di perahu.
“Konon bukit tengkorak ditinggali oleh seorang kakek tua Wu yang semasa muda bekerja sebagai pandai besi di kota raja. Pandai Besi itu memiliki seorang istri dan dua orang anak. Ia bekerja untuk istana dalam penyediaan senjata perang seperti tombak, pedang dan golok. Pada pemerintahan Raja Qi keempat, raja gemar sekali berperang, ia menuntut Wu untuk membuat senjata sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat. Wu tak mampu menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, raja menghukumnya dengan hukuman mati sekeluarga,” tukang perahu itu terhenti sejenak, menarik napas berat sebelum melanjutkan.