Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya
Saat suamiku memaksa diriku yang sedang hamil delapan bulan untuk menemani sahabat masa kecilnya main loncat bungee, aku tidak membantah ataupun marah.
Sebaliknya, aku malah mengangguk setuju.
Aku melakukan ini karena di kehidupan sebelumnya, sahabatnya itu sedang sedih.
Demi menghiburnya, suamiku berjanji akan mengabulkan satu permintaannya.
Sahabatnya pun bilang pada suamiku kalau keinginan terbesarnya adalah ada orang yang menemaninya main loncat bungee.
Suamiku yang takut ketinggian langsung menyuruhku untuk menemaninya, aku pun menolak mentah-mentah dengan alasan sedang hamil.
Karena penolakanku, sahabatnya itu sedih dan akhirnya memilih pergi ke bar untuk minum-minum.
Sialnya, dia malah dijebak di sana, diracuni dan dilecehkan hingga kehilangan kesuciannya.
Setelah kejadian itu, dia yang merasa hancur meninggalkan sebuah surat wasiat sebelum mengakhiri hidupnya,
[Kalau saja aku nggak pergi ke bar hari itu, mungkinkah semuanya akan berbeda?]
Membaca surat itu, suamiku mencekik leherku.
“Kenapa kamu nggak mengikuti ajakan Sisil untuk loncat bungee? Apa susahnya tinggal mengikuti dia saja?”
Akhirnya, aku mati dicekik oleh suamiku sendiri dan anak di kandunganku yang belum sempat lahir pun ikut pergi bersamaku.
Begitu membuka mata kembali, ternyata aku kembali ke hari di mana suamiku memintaku menemani sahabatnya itu main loncat bungee….