Exit
Aku mulai bertanya, berusaha setenang mungkin meski rasanya suaraku yang terdengar bergetar.
“Engg… engga apa-apa, kok, Kak,” jawabnya terputus-putus. Kenapa, sih? Apa dia takut kepadaku karena merasa bersalah sudah menumpahkan minumanku?
“Masalah minuman tadi kamu nggak perlu mikirin. Lagian aku sama April bisa beli lagi nanti,” terangku, berusaha menenangkan siswi itu yang menurut pradugaku masih merasa bersalah tentang segelas tea jus.
Hot Chapters