Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Ganjaran Nafsu

Ganjaran Nafsu

Ajaibnya ada sebuah sosok bergerak di dalamnya, bahkan sosok itu bisa bicara! Di manakah ini? Kok aku belum pernah melihat benda-benda ini sebelumnya? “Kak Leon, mengapa kulitnya begitu elastis? Lihat, dia sama sekali nggak terlihat seperti mayat, tubuhnya juga masih hangat!” Wilbert menekan wajahku dengan jarinya. Kak Leon mengangguk sambil berkata, “Kau cium sesuatu nggak?” “Iya, iya! Aromanya sepertinya dari mayat ini.”
5.2K viewsCompletedAdded to Library 155 Times as voracious
Read
+Library
Rantai Hasrat

Rantai Hasrat

hardik Adrian sambil menendang-nendang seorang pelayan yang sekarat. Beberapa pegawai sibuk menimbun mayat para pelayan yang dijadikan tumbal kekesalan Adrian. Sejak umur lima tahun Adrian senang merenggut nyawa makhluk hidup. Ia ingin melihat nyawa yang keluar dari makhluk hidup itu. Saat dia menemukan burung ia langsung mencekik hingga burung itu mati, namun yang ia harapkan tidak dia dapatkan.
5.3K viewsOngoingAdded to Library 200 Times as voracious
Read
+Library
Sakit yang Menyenangkan

Sakit yang Menyenangkan

Ia telah melakukan hal yang buruk padanya. Mengenai Voracity—model Jerman—yang Greed kencani itu memang benar, tapi tak lebih untuk menghilangkan Charity dalam benaknya, bahkan sekarang Greed sudah memutuskan semuanya, ia tak bisa berpacaran dengan wanita mana pun.
106.6K viewsOngoingAdded to Library 198 Times as voracious
Read
+Library
Greedy

Greedy

BRAK Alex menabrak sesuatu. Baru saja bahas keahlian Alex. Dirinya sudah menabrak gerobak tukang sayur yang sedang berhenti di pinggir jalan. Tukang sayur yang sedang membeli bubur ayam untuk sarapannya, justru harus menerima kenyataan gerobaknya yang setengah hancur. Tukang sayur itu berlari mendekati gerobaknya dengan mengeluh, "Ya ampun gustii, apa dosa saya," ucap tukang sayur itu dengan mengelus dada sambil berjongkok.
105.2K viewsCompletedAdded to Library 183 Times as voracious
Read
+Library
BOSSY

BOSSY

sahutnya kalem, berbeda dengan jantungnya yang berdegup kencang. Han melirik Ava sebentar, lalu kembali fokus menatap jalan. "Kapan?" "Tadi siang." Han tertawa kecil. "Masih kenyang?" "Sedikit lapar," jawabnya jujur. "Pak Han lapar ya?" Han menoleh, tersenyum mempesona. "Iya." ia kembali menghadap depan. "Menurut kamu, dimana tempat penjual makanan yang enak?"
107.1K viewsOn holdAdded to Library 234 Times as voracious
Read
+Library
PREV
12
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status