Wiro sang Penakluk
“Aku udah pesen champagne. Dingin.”
Wiro melangkah masuk. Pintu tertutup otomatis di belakangnya dengan suara klik pelan. Kamar itu luas, jendela kaca dari lantai ke plafon memamerkan pemandangan kota malam yang berkilauan. Lampu-lampu redup, hanya beberapa lampu dinding yang menyala hangat, dan aroma lilin vanila samar memenuhi ruangan.