The Queen (Indonesia)
The Queen (Indonesia)
Author: Jihanna Yvonne
Prolog

Cerita ini mengambil kisah berdasarkan cerita Snow White. Tapi apapun cerita di dalamnya sudah diremak sedemikian rupa hingga menghasilkan suatu cerita yang lebih menarik, imajinatif, kreatif dan lain sebagainya.

Selamat membaca!

***

Putih dan lembut.

Itulah gambaran dari butiran-butiran salju yang jatuh di pertengahan musim dingin ini.

Mei, seorang wanita dengan mahkota yang menghiasi kepalanya tengah duduk di dekat perapian. Di sampingnya, seorang pria yang juga memakai mahkota sedang mengelus perut wanita tersebut yang telah membuncit. Mereka saling melemparkan senyum, terlihat sangat bahagia.

Mei yang merupakan seorang ratu di Negeri Noble tersebut menatap ke luar jendela. Ia mengamati butir-butir salju yang sedang berjatuhan terus menerus.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Mei?" Sang Ratu menoleh saat suaminya--Raja Rafael, bertanya.

"Aku hanya berpikir jika kelak kita akan melahirkan seorang putri secantik salju itu," jawab Mei sambil tersenyum lembut.

Rafael kaget dengan ucapan istrinya. "Kau ini bicara apa? Kau ingin anak kita seperti mayat, begitu? Putih dan dingin? Setelah itu kita tinggal memasukkannya dalam peti mati."

Ingin rasanya Mei menelan hidup-hidup sang suami. Ia memijit pelipisnya sabar. "Sebenarnya berapa IQ-nya? Kenapa dia bisa menjadi seorang Raja?" gumamnya.

"Bukan itu maksudku, Yang Mulia," ucap Mei. "Tetapi seorang Putri yang cantik, berkulit putih, bersih, mulus tiada noda hitam di wajah. Punya bibir merah tipis dan cipok-able. Bertubuh gital spanyol alias bahenol. Lalu memiliki rambut hitam mengkilat seperti rambut bulu ketekku--"

"Tunggu dulu, Mei," potong Rafael. "Bulu ketekmu kan berwarna hijau. Bukankah tadi malam kita sudah menyemirnya bersama?"

"Oh iya, aku lupa." Mei menepuk jidatnya. "Kalau begitu nanti malam kita semir lagi jadi warna hitam."

"Tapi aku lebih suka warna biru."

"Yang Mulia Raja Rafael! Minggu lalu kita sudah menyemirnya warna biru. Sekarang giliranku! Lagipula salah sendiri kenapa kau tidak punya bulu ketek! Ini bulu ketekku man!"

"Oke-oke, aku kalah." Rafael memutar bola mata malas. Yah, laki-laki tidak akan menang melawan emak-emak yang lagi hamil, kan? Bisa-bisa dia kena timpuk sendal teklek yang sekarang sedang dipakai Mei.

"Akh!" Tiba-tiba Mei memegang perutnya yang menegang. "Yang Mulia, sepertinya aku akan melahirkan."

"Sekarang Mei?"

Mei mengangguk. "Iya, sakit sekali Yang Mulia. Aaakh!!" Mei memekik kesakitan. Ia bahkan sudah turun dari kursi dan bergulung-gulung di atas karpet tebal berwarna merah.

"Tarik napas, Mei." Rafael memberi interuksi. Mei mengikutinya tanpa banyak protes.

"Keluarkan perlahan," ucap Rafael dan diikuti Mei.

Mereka melakukan tarik napas-keluarkan selama lebih dari sepuluh kali, dan karena tak tahan dengan rasa sakit dari kontraksi akan melahirkan, Mei pun berteriak lantang yang mana suaranya malah mirip dengan suara lelaki dewasa macho preman pasar.

"WOI RAFAEL KAMPRET! PANGGIL BIDAN SEKARANG JUGA!!!"

Rafael terkejut dan menganga, dalam hati mempertanyakan lagi siapakah wanita yang telah ia nikahi selama ini? Apakah Mei benar-benar perempuan asli atau justru dia nganu?

"RAFAEEEELLLLLL!!!"

Teriakan melengking dari Mei menyadarkan lamunan tidak penting pria tersebut. Rafael pun segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan Smartphone yang berlogo stroberi dimakan ulat.

"Halo Roy Kiyoshi, istri saya mau melahirkan tetapi suaranya berubah jadi gedeeee banget kayak preman pasar. Karena saya dengar kamu bisa menerawang seseorang, aku ingin bertanya apakah istri saya wanita asli atau tipu-tipu? Kan rugi bandar kalau ternyata aku nikahin perempuan yang tidak original 100 persen."

"Maaf, salah sambung. Saya Roy Rikongsi, bukan Kiyoshi. Dan berhubung anda sudah menelepon, daripada pulsa anda terbuang sia-sia, maka dengan baik hati saya ingin menawarkan produk mobil keluaran terbaru di perusahaan kami saat ini yaitu Lombokghini yang memiliki desain seperti buah jeruk!"

TUUUT ....

Rafael memutuskan sambungan dengan kesal. "Kurang ajar. Aku kena tipu. Katanya ini nomornya Roy Kiyoshi, eh malah Roy Rikongsi. Kutu kupret!"

"Yang Mulia ... aku ... tak kuat lagi." Mei mengerang kesakitan, Napasnya sudah tidak teratur lagi. Dahi Mei berkeringat banyak.

"Astaga! Maafkan aku melupakanmu, Mei." Rafael mendekati Mei. "Oke, aku telpon Bidan Kerajaan dulu. Bertahanlah!"

Kali ini Rafael benar-benar menelpon sang Bidan, menyuruhnya agar segera ke kediaman utama. Sementara Mei, masih berjuang melawan kesakitan. Demi melahirkan anak pertama penerus kerajaan Noble di masa depan.

*****

Duar Duar Duar ...

"Selamat atas kelahiran sang Puteri Kerajaan yang cantik jelita! Hidup Raja Rafael! Hidup Raja Rafael!"

Letusan kembang api yang terus menerus menyala di langit sekaligus pengumuman kabar kebahagiaan di seluruh penjuru istana bergema. Raja Rafael tersenyum. Ia senang sekaligus sedih.

Senang karena putrinya lahir dengan selamat, sehat dan cantik. Dan sedih karena Mei, istrinya, tidak tertolong. Ia mengalami pendarahan hebat dan tak mampu bertahan hidup.

Sorak sorai rakyat yang berkumpul di halaman istana terus bergema mengucapkan selamat kepada sang Raja. Mereka juga ikut bahagia akhirnya kerajaan memiliki penerus.

Raja Rafael berdiri, menggendong sang putri mungil dalam dekapan lalu menatap seluruh rakyat yang berkumpul.

Setelah berdehem sejenak, ia pun berkata lantang.

"Ini adalah putriku yang pertama, dan aku memberinya nama Mia!"

Rakyat berteriak menggemakan nama Mia terus menerus.

"Hidup Raja Rafael, hidup putri Mia!"

"Hidup Raja Rafael, hidup putri Mia!"

"Hidup Raja Rafael, hidup putri Mia!"

Raja Rafael tersenyum, ia menunduk mengecup sayang pada anak pertamanya tersebut. Hingga saat ia mendongak, mengamati sekali lagi kumpulan rakyat yang bergembira, Rafael melihatnya ...

Seorang wanita bermata biru dengan rambut cokelat bergelombang indah yang tergerai begitu saja. Wanita itu tersenyum, menampilkan sebuah lesung pipit di pipi sebelah kiri.

Dan tepat saat itu juga, bayi-bayi mungil bersayap yang memegang harpa menari-nari indah di antara mereka. Dengan kurang ajar, menembakkan panah cinta tepat di jantung sang Raja. Membuat Raja Rafael langsung jatuh cinta pada wanita yang sama sekali tidak ia tau namanya.

"Nak, Ayah akan menikah lagi," bisiknya pada sang putri kecil yang masih terpejam tak tahu apa-apa.

Ya, benar! Yakali aku yang masih muda dan kuat di ranjang ini harus hidup menjomblo sebagai duda. Ya ya ya, aku akan menikah lagi. Hahahaha, tawa Rafael dalam hati.

Bersambung .....

DMCA.com Protection Status