Teilen

Bab 1873

Rexa Pariaman
Ewan menangkap bahu Nazar dengan sigap dan menariknya keluar dari rawa.

"Bocah, sepertinya kamu benar. Kita memang harus lebih berhati-hati," kata Nazar.

Dia menunjuk ke depan dan berkata, "Di depan ada hamparan rawa. Kita memutar saja."

Keduanya segera mengambil jalan memutar. Di sepanjang perjalanan, mereka juga bertemu banyak makhluk beracun. Ular piton sepanjang 20 sampai 30 meter, kelabang sepanjang setengah meter, kalajengking sepanjang lebih dari setengah meter ....

Jumlahnya tak terhitun
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2679

    "Ikuti aku."Ewan pernah datang ke tempat ini sebelumnya, sehingga dia dengan mudah membawa semua orang menuju rumah batu yang dahulu ditempati Ega dan Aruna. Dari kejauhan, mereka sudah mendengar suara Nazar dari dalam rumah batu."Wah, salju turun!""Langit putih semua.""Bumi putih semua.""Gunung putih semua.""Atap putih semua.""Seluruh dunia putih semua!"Sudut bibir Ewan berkedut.Tua bangka ini benar-benar tidak pernah bisa menghilangkan kebiasaan menulis puisi.Tak lama kemudian, terdengar lagi suara Nazar."Pendeta tua, puisiku yang bergaya modern ini bagus, 'kan? Bahasanya mudah dipahami, lugas, dan sederhana. Hanya dengan beberapa kalimat saja sudah berhasil menggambarkan pemandangan salju yang turun begitu megah. Menurutmu, bukankah puisi ini layak masuk buku sejarah?"Tak lama kemudian, terdengar dengusan dingin Sunnata. "Masuk buku sejarah? Berani juga kamu mengatakan hal seperti itu. Benar-benar nggak tahu malu.""Pendeta tua, jangan kira aku nggak tahu. Kamu cuma iri

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2678

    Setelah mendengar perkataan Ewan, hati Dewi Kembang bergetar. Dia bisa melihat bahwa Ewan mengatakannya dengan sungguh-sungguh.Pada saat itu, seolah ada sesuatu yang menyentuh relung terdalam hatinya. Sejak kecil hingga sekarang, ini adalah pertama kalinya seorang pria mengatakan kata-kata seperti itu kepadanya.Untuk sesaat, yang dia Klanakan hanyalah haru.'Pria menyebalkan ini ... kenapa dia memperlakukanku sebaik ini?'Tanpa dia sadari, Ewan justru sedang tertawa dalam hati.'Gadis kecil, masa aku nggak bisa menaklukkanmu? Meski kamu adalah Ketua Istana Kembang, pada akhirnya kamu tetaplah seorang wanita. Selama dia wanita, nggak ada yang bisa lolos dari rayuan dan tipu daya pria.''Lagi pula, pengalamanku menghadapi wanita sudah sangat banyak. Mana mungkin kamu bisa mengalahkanku?'Mata Ewan terus menatap Dewi Kembang tanpa berkedip dengan penuh kasih sayang.Tatapan itu membuat wajah Dewi Kembang memerah karena malu. Dia mengalihkan pandangannya, lalu sengaja memasang wajah ding

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2677

    Ewan terus menatap Dewi Kembang tanpa berkedip.Dewi Kembang mulai meKlana tidak nyaman karena tatapannya, lalu bertanya, "Apa yang kamu lihat?"Dengan wajah penuh senyum usil, Ewan berkata, "Dewi Kembang, ternyata kamu ini dingin di luar tapi hangat di dalam, ya. Kamu begitu mengkhawatirkan keselamatanku. Jangan-jangan kamu suka sama aku?""Nggak tahu malu!" bentak Dewi Kembang. "Aku sudah mengatakan semua yang perlu kukatakan. Mau mendengarkan atau nggak, terserah kamu."Ewan kembali berkata, "Kalau setiap iblis dan siluman harus dibasmi, lalu kenapa kalian nggak menyerang Koji?"Dewi Kembang menjawab, "Kalau dia bukan muridmu, aku sudah bergerak sejak tadi.""Nah, benar, 'kan? Berarti kamu memang menyukaiku." Ewan berkata tanpa Klana malu."Kamu ...."Dewi Kembang begitu kesal hingga kedua pipinya mengembung. Wajahnya yang cantik tampak seperti bakpao putih yang lembut, membuat orang ingin menggigitnya.Midori ikut membujuk, "Tuan Ewan, Ketua mengatakan semua ini demi kebaikanmu. Se

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2676

    Dalam perjalanan menuju bandara, Ewan diam-diam mengamati dan mendapati bahwa Dewi Kembang dan Midori sengaja menjaga jarak dari Koji.Hal itu membuatnya sangat bingung.'Koji adalah orang kita sendiri. Kenapa mereka bersikap seperti itu?'Sesampainya di bandara."Zayn, aku belum makan. Tolong belikan aku hamburger. Midori, kamu mau juga?" tanya Ewan."Mau." Midori langsung mengangguk tanpa ragu."Kalau begitu, belikan juga satu untuk Midori dan Dewi Kembang. Oh ya, kamu dan Koji juga makanlah." Ewan berkata, "Perjalanan ke Gunung Mahameru masih sangat jauh. Kita harus mengisi perut dulu."Zayn berkata, "Bos, kita bisa makan langsung di restorannya.""Nggak usah. Setelah kalian selesai makan, bawakan saja untuk kami."Zayn mengangguk, lalu pergi bersama Koji.Setelah berhasil menyuruh mereka pergi, Ewan menoleh kepada Dewi Kembang dan berkata, "Koji itu muridku. Sekalipun kamu punya pKlanangka terhadapku, nggak perlu bersikap dingin sama dia juga, 'kan?""Tuan Ewan, kamu salah paham. K

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2675

    Saat berbicara, Ewan melirik sekilas ke arah pinggul Dewi Kembang, lalu berpikir dalam hati, 'Sepertinya sejak kupukul waktu itu, bagian itu malah jadi lebih montok.'Dewi Kembang menyadari tatapan Ewan. Wajahnya sedikit canggung. Dia menarik ujung rok sedikit ke bawah, lalu berkata dengan marah, "Aku bisa dengarin perintahmu. Tapi kalau kamu berani macam-macam, aku akan mempertaruhkan nyawaku melawanmu."Ewan tersenyum menghina. "Melawanku? Heh, memangnya kamu bisa mengalahkanku?""Kamu ...."Dewi Kembang mengepalkan tinjunya karena marah. Andai saja dia mampu mengalahkan Ewan, dia pasti sudah menyerang tanpa ragu. Pria menyebalkan ini benar-benar keterlaluan!Midori buru-buru menenangkan, "Ketua, Tuan Ewan orang baik. Dia nggak akan menyakiti kita.""Kamu ini sebenarnya berpihak sama siapa?"Dewi Kembang sampai ingin memukul Midori. Gadis itu selalu saja membela orang luar.Saat itu juga, Zayn datang mengendarai mobil."Kakak Ipar."Zayn menyapa Millie, lalu berkata, "Bos, tiket pesa

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2674

    Meskipun Ewan tidak percaya pada perkataan Nazar, dia tetap memercayai apa yang dikatakan Sunnata."Senior, apa yang terjadi?" tanya Ewan segera."Sebaiknya kamu datang sendiri ke Gunung Mahameru dan melihatnya. Aku punya firasat akan terjadi perubahan besar di Gunung Mahameru." Nada bicara Kepala Akademi Bayanaka terdengar sangat serius."Baik, hari ini juga aku akan datang."Ewan menutup telepon, lalu membangunkan Lisa."Ada apa, Sayang? Kamu ingin lagi?" Lisa membuka matanya yang masih mengantuk, lalu membalikkan tubuh dan memanjat ke atas tubuh Ewan.Ewan tersenyum kecut. "Kak Lisa, barusan aku menerima telepon dari si tua bangka. Sepertinya akan terjadi sesuatu di Gunung Mahameru. Aku harus pergi ke sana.""Jadi begitu. Aku kira kamu ingin lagi." Lisa melepaskan pelukannya dari Ewan, lalu bertanya, "Kapan berangkat?""Sebentar lagi."Lisa mengecup bibir Ewan, lalu berkata, "Hati-hati ya. Sebelum pulang nanti telepon aku dulu. Aku akan mandi bersih, menunggumu di rumah, dan memakai

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status