로그인CHAPTER 112
Ruangan mendadak hening. Takeshi memandang Summer sesaat, lalu mengangguk. “Iya.”Mata Summer membulat. “Lalu… kenapa tidak ada yang memberitahuku?”“Karena kami ingin melindungimu.”“Melindungiku?” Summer semakin bingung.“Kalian masih terlalu muda.” Pandangan Takeshi bergeser kepada Dylan. “Kalau sejak awal kalian tahu semuanya, hidup kalian tidak akan berjalan seperti sekarang.”“Maksud Kakek?” tanya Summer heran.Arthur tersenyum tipis. “KalauCHAPTER 112Ruangan mendadak hening. Takeshi memandang Summer sesaat, lalu mengangguk. “Iya.”Mata Summer membulat. “Lalu… kenapa tidak ada yang memberitahuku?”“Karena kami ingin melindungimu.”“Melindungiku?” Summer semakin bingung.“Kalian masih terlalu muda.” Pandangan Takeshi bergeser kepada Dylan. “Kalau sejak awal kalian tahu semuanya, hidup kalian tidak akan berjalan seperti sekarang.”“Maksud Kakek?” tanya Summer heran.Arthur tersenyum tipis. “Kalau Dylan tahu sejak awal bahwa gadis yang selama ini ia cari adalah kamu…” Ia melirik putranya sekilas. “…dia tidak akan memikirkan hal lain selain menemuimu.”“Itu tidak benar,” bantah Dylan singkat.“Oh ya?” Eleanor terkekeh pelan. “Ibu yakin setiap hari kau sudah bolak-balik ke Jepang.”Summer tak mampu menahan tawanya. Ia kembali melirik Dylan yang masih memasang wajah datar, seolah semua tuduhan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya. “Benarkah?”Dylan mengembuska
CHAPTER 111Summer membeku. Pandangannya bergantian antara Dylan dan gelang yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Rasanya mustahil. Berkali-kali ia merasa wajah Dylan begitu tidak asing, tetapi tak pernah sekalipun terpikir bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang selama ini terus ia cari.“Itu…” Suaranya nyaris berubah menjadi bisikan. “Tidak mungkin.” Ia menggeleng pelan, masih mencoba menyangkal kenyataan yang baru saja didengarnya. “Apa kau sedang bercanda?”“Aku tidak pernah bercanda soal ini.”Jawaban singkat itu membuat jantung Summer berdegup semakin kencang. Tak ada sedikit pun keraguan di wajah Dylan, membuat penyangkalan yang sejak tadi berusaha ia pertahankan mulai goyah.“Kalau begitu…” Summer menarik napas pelan. “Buktikan.”Dylan mengangguk. “Tiga belas tahun yang lalu, di taman rumah Kakekmu…” Suaranya terdengar tenang. “Kau memaksaku naik ke atas kuda bersamamu.”Summer hanya mampu menatap Dylan tanpa berkedip.
CHAPTER 110Pintu utama terbuka bahkan sebelum Dylan sempat menekan bel.Seorang pria paruh baya sudah berdiri di ambang pintu, seolah memang telah menunggu kedatangan mereka. Senyum hangat langsung menyambut keduanya. “Selamat datang.”Dylan mengangguk kecil. “Ayah.”Summer yang berdiri di samping Dylan seketika membeku. Ayahnya…? Tatapannya tak lepas dari pria di hadapannya. Entah mengapa wajah itu terasa begitu akrab, seolah pernah ia lihat bertahun-tahun yang lalu, tetapi semakin ia berusaha mengingat, bayangan itu justru semakin kabur.Arthur ikut memandang Summer beberapa saat. Senyumnya tak berubah. “Kau sudah besar.”Summer tersadar dari lamunannya lalu sedikit membungkukkan badan. “Selamat siang, Pak.”Arthur masih memandang Summer. Sorot matanya perlahan melembut hingga senyum di wajahnya ikut berubah semakin hangat. “Sudah lama… saya menunggu hari ini.”Summer mengernyit pelan. Kalimat itu terdengar begitu tulus, seolah pria di hadapan
CHAPTER 109Dylan memperhatikan iring-iringan mobil keluarga Ryu hingga menghilang dari halaman Royal Crest Academy.Di sampingnya, Summer masih memandangi arah yang sama. “Senior Dylan.”“Hm?”“Arthur…” Summer mengernyit pelan. “Apa kau mengenalnya?”Dylan mengangguk. “Dia ayahku.”“Ayahmu?” Wajah Summer tampak kaget.“Iya.” Tatapan Dylan kembali jatuh kepada Summer. Ternyata gadis itu memang belum mengetahui apa pun.“Kalau begitu…” Summer kembali bertanya. “Bagaimana Kakek bisa mengenal ayahmu?”Dylan terdiam beberapa saat. Ia bisa saja menjawab, tetapi setelah semua yang baru saja terjadi, ia merasa bukan dirinya yang berhak menceritakan kisah itu.“Itu…” Senyum tipis muncul di wajahnya. “Biarkan Tuan Takeshi yang menjelaskannya nanti.” Summer mengangguk pelan, lalu kembali menundukkan kepala.Dylan memperhatikan wajah gadis itu sejenak. Hari ini terlalu banyak hal yang harus diterimanya. “Summer... apa kau baik-baik saja?”“A
CHAPTER 108Kai tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada Summer yang kini berdiri di sisi Dylan sambil menggenggam lengan pria itu. Namun sesuatu telah berubah. Gadis yang selama bertahun-tahun selalu menundukkan kepala di hadapannya kini balas menatap tanpa lagi berusaha menghindar. Summer tidak lagi bersembunyi darinya.Pandangan Kai kemudian menyapu halaman Royal Crest Academy, mulai dari mobil-mobil hitam yang terus berdatangan, para pria berpakaian hitam yang telah membentuk beberapa lapis pengamanan, hingga kilatan cahaya di atap gedung utama yang langsung dikenalnya sebagai posisi para penembak.Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya saat pandangannya kembali berhenti pada Dylan yang tetap berdiri di sisi Summer tanpa sedikit pun bergeser. Dylan ternyata telah mempersiapkan semuanya jauh lebih matang daripada yang ia perkirakan.Hari ini ia hanya datang dengan beberapa pengawal, sementara Dylan telah mengubah seluruh sekolah menjadi benteng.
CHAPTER 107“…Kai Akazakura.”Dylan seketika berdiri dari kursinya. Jantungnya berdetak lebih cepat dan tangannya refleks merogoh saku jas lalu mengeluarkan ponsel.Begitu layar menyala, sorot matanya berubah saat melihat sembilan panggilan tak terjawab dari Ethan beserta pesan yang baru masuk beberapa menit sebelumnya.💬 Ethan: Tuan muda. Kai Akazakura menuju Royal Crest Academy. Saya tidak bisa menyusulnya secepat itu. Jalanan menuju sekolah macet. Beberapa tim kehilangan arah setelah target memecah jalur pengawasan. Maaf.“…Jadi begitu.” Dylan mengembuskan napas kasar. Kai tidak pernah menghilang. Pria itu sengaja memecah perhatian seluruh tim Ethan agar bisa datang ke Royal Crest tanpa ada yang menyadarinya.“Dy.” Cloud yang berdiri di sampingnya ikut melihat perubahan ekspresi Dylan.“Dia tidak boleh ada di sini.”Cloud mengernyit. “Lo kenal dia?”Dylan mengangkat pandangannya ke arah Summer yang masih membeku di atas panggung. “Masalah
CHAPTER 42 Di balik pintu kamar asrama yang tertutup rapat, Summer menyandarkan punggungnya sejenak. Ia memejamkan mata, membiarkan detak jantungnya kembali normal setelah pertemuannya dengan Dylan yang mendebarkan. Ia melangkah ke kamar mandi, menyalakan pancuran air ha
CHAPTER 41“Gue nggak salah suka sama dia,” lanjut Cloud santai.Kalimat itu sederhana, namun efeknya seperti ledakan yang memekakkan telinga. Dylan menegang. Ia tidak membuat gerakan besar. Ia tidak mengeluarkan makian. Namun, ada satu tarikan napas yang terlalu pelan—sebu
CHAPTER 28Cloud mengernyit, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Maksud lo?" Axl mengembuskan napas pelan, seolah sedang memutar kembali memori yang mengganggu pikirannya. "Dia tampak seperti tidak tahu di mana dia berada. Pikirannya kosong." Ruangan itu kembali diselimuti kesu
CHAPTER 4 Keesokan paginya, Summer berdiri beberapa detik di depan pintu kelas A-1 sambil memeluk tablet di dadanya. Begitu pintu terbuka, suara obrolan di dalam langsung mengecil dan beberapa kepala serempak menoleh ke arahnya. “Oh, ranking satu datang.” “Yang kemarin ngomong ke senior Dylan it







