ANMELDENKatedral Kekaisaran berdiri megah di jantung ibukota, dengan kubah emas yang berkilau di bawah matahari sore. Ribuan orang memenuhi jalanan—bangsawan, rakyat biasa, pedagang, petani—semua datang untuk menyaksikan peristiwa yang akan dikenang sepanjang sejarah.
Pernikahan Kaisar Arlos dengan Permaisuri Anastasia.Di dalam katedral, ribuan lilin menyala, menciptakan cahaya hangat yang berkilauan pada dinding marmer putih. Bungabunga dari seluruh kekaisaran menghiasi setiap sudDi akademi, semua orang terdiam ketika Permaisuri tiba. Anastasia, dalam gaun sutra biru yang elegan, mahkota kecil di kepalanya, berjalan dengan Arlos di sisi kanannya dan Lucian di kiri. “Permaisuri kita sangat cantik,” bisik-bisik di antara siswa dan orang tua. “Dan lihat—dia memegang tangan Pangeran Lucian. Mereka sangat dekat.” Upacara dimulai. Dan ketika nama Lucian dipanggil— “Pangeran Lucian Draven Cassius, Siswa Terbaik Tahun Ketiga”— Anastasia berdiri, bertepuk tangan dengan bangga, air mata mengalir. Lucian berjalan ke panggung, menerima medali emas dan sertifikat. Tapi alih-alih langsung kembali— Dia turun dari panggung, berjalan langsung ke ibunya, dan memeluknya. “Ini semua karena Mama,” bisiknya. “Mama yang selalu percaya pada Lucian.” Anastasia tidak bisa menahan tangisannya. Dia memeluk putranya dengan erat—putranya yang sudah hampir setinggi bahun
Villa pantai kekaisaran adalah surga di bumi. Dibangun di tepi pantai pribadi dengan pasir putih dan air biru jernih, dikelilingi oleh hutan tropis yang rimbun. Villa itu sendiri megah tapi juga nyaman—bukan istana yang formal tapi rumah yang hangat. Mereka tiba di sore hari—Lucian dan Sera sudah bergidik dengan kegembiraan saat melihat laut untuk pertama kalinya. “AIR BESAR!” Lucian berteriak, berlari ke pantai sebelum siapapun bisa menghentikannya. “Lucian! Tunggu!” Anastasia tertawa, berlari mengejarnya dengan Sera di gendongan. Arlos mengikuti dengan senyum—pemandangan keluarganya bermain di pasir membuat sesuatu di dadanya melembut. Ini adalah kebahagiaan. Kebahagiaan sejati. ☆☆☆ Dua minggu berikutnya adalah kenangan yang akan mereka hargai selamanya. Pagi dimulai dengan sarapan di teras yang menghadap laut. Lucian dan Sera akan berlari ke panta
Malam adalah untuk keintiman. Setelah anak-anak tidur—Lucian di kamarnya yang sekarang penuh dengan buku tentang sihir dan sejarah kekaisaran, Sera di tempat tidur bayi di kamar mereka—dia masih menolak tidur jauh dari orang tuanya. Arlos dan Anastasia akan punya waktu untuk mereka berdua. Kadang mereka hanya duduk di balkon, menatap bintang, berbicara tentang hari mereka. Kadang mereka membaca bersama—Arlos membacakan laporan kekaisaran sementara Anastasia membaca novel—dia menemukan dia sangat suka cerita romansa, meskipun tidak ada yang sebanding dengan cerita mereka sendiri. Dan kadang— Kadang mereka hanya menatap satu sama lain, tidak perlu kata-kata, tangan saling bergandengan. “Apa yang kau pikirkan?” Arlos akan bertanya suatu malam, jari-jarinya bermain dengan rambut Anastasia yang tergerai. “Aku berpikir betapa beruntungnya aku,”
Bulan-bulan setelah pernikahan adalah periode kebahagiaan yang belum pernah dialami istana dalam generasi.Anastasia—sekarang secara resmi Permaisuri—bersinar dalam perannya. Dia tidak hanya ibu yang mencintai, tapi juga pemimpin yang bijaksana. Rakyat mencintainya—bukan karena kecantikannya atau statusnya, tapi karena kebaikannya yang tulus.Setiap minggu, dia membuka istana untuk rakyat biasa. Mendengarkan keluhan mereka, membantu memecahkan masalah mereka, bahkan kadang turun ke kota untuk mengunjungi rumah sakit dan panti asuhan.“Permaisuri kita adalah anugerah dari para dewa,” orangorang akan berbisik dengan kagum. “Lihat bagaimana dia memperlakukan bahkan orang paling miskin dengan rasa hormat.”Dan Arlos—dia menonton istrinya dengan kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan. Dalam pertemuan dewan, dia akan meminta pendapat Anastasia, mengakui kebijaksanaannya di hadapan bangsawan yang dulunya meremehkannya.“Permaisuriku memiliki h
Katedral Kekaisaran berdiri megah di jantung ibukota, dengan kubah emas yang berkilau di bawah matahari sore. Ribuan orang memenuhi jalanan—bangsawan, rakyat biasa, pedagang, petani—semua datang untuk menyaksikan peristiwa yang akan dikenang sepanjang sejarah.Pernikahan Kaisar Arlos dengan Permaisuri Anastasia.Di dalam katedral, ribuan lilin menyala, menciptakan cahaya hangat yang berkilauan pada dinding marmer putih. Bungabunga dari seluruh kekaisaran menghiasi setiap sudut—mawar merah dan putih, lily emas, bunga-bunga langka yang hanya mekar sekali dalam dekade.Dan di altar—Arlos berdiri menunggu.Dia mengenakan jubah kekaisaran formal yang paling mewah—hitam dengan bordir emas dan merah, mahkota besar di kepalanya, pedang upacara di pinggangnya. Tapi yang paling mencolok bukan keagungannya—Tapi ekspresi di wajahnya.Mata merah yang biasanya dingin kini bersinar dengan antisipasi. Wajahnya yang biasanya keras kini dilunakka
Minggu-minggu berikutnya adalah periode pemulihan dan perayaan.Anastasia—yang sekarang benar-benar sehat—harus belajar kembali hidup tanpa rasa sakit konstan. Belajar kembali berjalan tanpa gemetar. Belajar kembali melakukan hal-hal sederhana yang sebelumnya mustahil.Dan itu adalah kebahagiaan yang luar biasa.Pagi pertama dia bangun dan bisa berdiri sendiri—tanpa bantuan—dia menangis dengan kebahagiaan. Arlos menemukannya berdiri di balkon, menatap matahari terbit, air mata mengalir di pipinya."Apa yang salah?" dia panik, langsung ke sisinya."Tidak ada yang salah.” Anastasia tertawa sambil menangis."Semuanya benar—aku bisa berdiri—aku bisa merasakan angin di kulitku tanpa sakit—aku bisa bernapas tanpa terengah-engah—Arlos—ini adalah keajaiban—"Dan Arlos memeluknya dari belakang, wajahnya terkubur di rambutnya, berterima kasih pada setiap dewa yang mungkin mendengar karena memberikan ini padanya.Lucian sa
"KAU LULUS," Phoenix berkata dengan suara yang sekarang terdengar nyaris—lembut? "KAU LULUS UJIAN KETIGA.KARENA KAU MEMILIH KEBAHAGIAANNYA DIATAS KEBAHAGIAANMU SENDIRI. ITU ADALAH CINTA YANG SEJATI.""Tapi—apa maksudmu—""ITU ADALAH UJIAN," Phoenix menjelaskan. "UNTUKMELIHAT APAKAH CINTAMU MURNI
UJIAN KEDUA: KEBERANIANDunia berubah lagi.Kali ini—Arlos berdiri di kegelapan total. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya kegelapan yang mencekik.Lalu—bisikan-bisikan mulai. Suara-suara yang mengerikan."Kau akan gagal.""Dia akan mati dan itu s
Perjalanan ke Gunung Api Tertinggi memakan waktu sepuluh hari.Sepuluh hari melewati hutan yang gelap, lembah yang berbahaya, dan akhirnya—salju yang tidak pernah mencair bahkan di musim panas.Arlos tidak berhenti kecuali saat kudanya perlu istirahat. Dia tidak tidur—hanya medi
"Bukan harta duniawi yang kuinginkan." Aldric menatapnya dengan tatapan yang menembus. Sangat tajam."Tapi sesuatu yang jauh lebih berharga."Dia berhenti di samping ranjang, menatap Anastasia yang tidur dengan napas yang lemah."Ramuan yang bisa menyembuhkannya memerlu







