LOGINAthena pulang dan langsung menemui Safira. Tapi sebelum ia mengatakan sesuatu Ibunya itu sudah mengatakan, "Aku sedang nggak ingin berdebat denganmu, Atha. Aku lelah."Athena menelan semua kalimat yang ingin keluar dari mulutnya. Ia mendengus pelan sebelum membalikkan langkahnya dan keluar dari kamar Safira. Safira nyaris tidak percaya kalau Athena memang sudah berubah. Athena yang dulu tidak menerima penolakan. Ia akan berkeras untuk mengatakan apa yang ia pikirkan tanpa memandang perasaan orang lain yang mendengarnya. 'Seharusnya Aku senang, benar kata Eva kalau Atha sudah jauh lebih baik dari sebelumnya tapi mengapa Aku merasa nggak dibutuhkan lagi?' keluh hati Safira sedih. Ia lebih suka menjerit karena Athena selalu mengganggunya dengan urusan yang sama sekali tidak penting. "Atha semakin menjauh dariku dan lebih dekat sama Eva." Gumamnya. Apalagi kalau akhirnya Athena akan menikahi Siska. Mereka aka menjadi keluarga bahagia sedang Safira akan menjadi orang luar. "Enggak!
Athena menggeleng. Ia ingin cepat - cepat pulang dan berbicara serius dengan Safira. Ia berencana tidak akan lama berpacaran dengan Siska karena ia ingin segera menjadikannya sebagai istrinya. "Aku harus pulang." Katanya sambil mengusap rambut Siska yang turun ke dahinya. Siska mengangguk. Ia menatap kepergian Athena dengan hati nelangsa. Apa ia sanggup terus menjalani hubungannya dengan Athena? "Aku mencintaimu, Atha. Tapi apa cintamu itu cukup untuk membelaku dari tindasan ibumu kepadaku nanti?"******3 bulan yang lalu. "Ternyata Kamu gagal, heh? Aku bilang juga apa? Berikan proyek itu padaku!" Cerca Anthony. Adamis menyatakan kalau negosiasinya dengan Sandiago Corp sudah gagal. Sandiago Corp menolak kerja sama yang ia tawarkan. "Maafkan Aku, Pak." Sahut Adamis tenang. Ia memang sengaja menutupi proyek kerjasamanya dengan Sunny agar Bramantyo Corp dapat bangkit sedikit demi sedikit tanpa sepengetahuan Anthony. Rekaman yang diberikan oleh Smith membuat Adamis yakin akan kec
"Apa Kamu bekerja?" Tanya Safira dengan tatapan yang membuat Siska takut. Athena memberi isyarat pada Evara dengan matanya dan kakaknya itu langsung bergeser. Ia mengerti kalau Athena ingin melindungi kekasihnya dengan berada di sisinya. Athena langsung duduk di sebelah Siska dan menggenggam sebelah tangannya. "Aku.. Bekerja, Nyonya." Jawab Siska dengan menahan nafasnya. Safira mengangkat dagunya. Ia terlihat lebih Nyonya besar daripada Ariana sekarang. "Bekerja apa? Dimana? Lalu kapan Kamu bertemu dengan Atha? Dimana Kalian bertemu? Di Bar tempat Atha minum? Atau dimana?" Berondong Safira. Siska terlihat semakin gugup. Athena merasakan tangan Siska yang berkeringat. Sebelum ia membantu menjawab pertanyaan ibunya, Safira sudah bertanya lagi. "Lihatlah dirimu. Apa Kamu merasa layak untuk anakku?""Ibu!" Seru Athena dan Evara berbarengan. Mereka tidak menyangka Safira akan berkata sekejam itu. "Sebelumnya Aku yang nggak layak untuknya, Bu!" Semprot Athena marah. Ia sudah tidak
"Itu memang nggak masuk akal." Angguk Ariana menyetujui dugaan Evara. Mana ada suami istri yang mesti berpisah padahal baru saja menikah kalau tidak ada sesuatu di balik semua itu? "Parahnya, Viona juga mengambil hadiah dariku, Ma. Atha hanya diberi sepertiga bagian." Kata Evara lagi. Ia merasa gemas setelah mendengar curhatan Athena dan ia langsung menceritakannya pada Ariana. "Bagaimana dengan Ibumu? Ia nggak terlihat khawatir?" Tanya Ariana. Evara menghela nafas. Ia juga tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh ibunya. Kenapa ia tidak kuasa membela Athena saat itu juga? "Apa Ibumu sudah Kamu beritahu, Atha? Apa reaksinya?" Tanya Ariana. Ia mengira Athena sudah memberi kabar pada Safira melalui telpon. Athena baru menyadari ketidak hadiran Safira. "Mana Ibu?" Ia balik bertanya. Evara tersenyum. "Ibu ada di kamarnya, Atha. Dia sangat mencintai kamarnya." Canda Evara. Safira memang menghabiskan kesehariannya dalam kamarnya yang nyaman. Ia akan keluar bila waktu makan tiba a
3 bulan sudah berlalu. Akhirnya Athena bisa menjalani proses perceraiannya dengan Viona karena ia sudah melahirkan. Athena semakin yakin kalau anak itu bukanlah anaknya saat ia menyambangi tempat Viona melahirkan. Ia benar - benar merasa tertipu. "Anak ini lahir prematur, Atha." Kilah Viona. "Apa Kamu pikir Aku akan percaya?" Kata Athena malas. Perasaan cintanya pada Viona sudah menguap entah kemana. Bahkan ia merasa heran pernah tergila - gila pada perempuan jahat ini! Semula Viona memang ingin bercerai dengan Athena tapi melihat penampilan Athena yang sekarang membuatnya ragu. Sudah tidak terlihat lagi tampang kucel Athena yang pemabuk. Wajahnya cerah dengan tatapan mata yang tegas. Wajahnya juga bersih karena selalu tersiram air wudhu. "Atha, Kita bisa memulainya lagi dari awal." Pinta Viona. Ia mendengar kalau Athena kini bekerja di perusahaan Adamis. Athena hanya tersenyum tipis. Ia tahu Viona melihat dirinya yang sekarang makanya ia bersikap merendahkan dirinya sendiri.
"Tenang, Alea. Mama akan sabar menemanimu sampai Kamu bosan." Jawab Artika yang tidak melihat ekspresi Alea karena ia fokus menatap wajah suami tercintanya. Alea berdiri sedikit gemetar menahan emosinya. 'Dami! Kenapa sulit sekali jalanku untuk bertemu denganmu?!' teriak hatinya putus asa. Alea menghentakkan kakinya sebelum keluar dari kamar. Andara juga langsung menutup telponnya setelah memberi kecupan mesra pada sang istri. Artika sedikit heran dengan sikap Alea barusan. Kenapa ia marah mendengar mamanya akan tinggal? Notif di ponselnya berbunyi. Dari Andara. Ia kembali merasa heran. Apa ada yang Andara lupakan? Notif berbunyi lagi. Andara mengirimkan pesan lagi. Artika dengan tidak sabar segera membukanya. 'Sayang, Aku takut Alea akan menyusul Adamis kalau Kamu pulang. Makanya Aku memintamu untuk tetap tinggal.' itu chat yang Andara tulis. 'Hapus chat ini dan yang tadi. Aku nggak mau Alea sampai membacanya.'Artika menutup mulutnya yang terbuka. " Ya Tuhan! Apa Alea akan s







