เข้าสู่ระบบSebuah titik hijau berkedip muncul di peta yang terbuka otomatis di layar ponsel Adnan. Ia mengerutkan kening, melihat sekeliling dengan tatapan bingung. "Secepat ini ada misi lagi?" tanya Adnan sendirian, menarik sedikit perhatian seorang ibu dengan anak yang sedang lewat.Ia cepat-cepat berjalan agar ibu dan anak itu tidak curiga padanya, tapi sistem langsung merespons dalam benaknya:[Benar. Sistem mendeteksi adanya orang yang membutuhkan bantuan medis segera. Mulai saat ini, Anda telah menjadi ahli medis karena masih masih banyak orang yang membutuhkan bantuan Anda]Adnan mengangguk paham, sekarang ia adalah orang yang di butuhkan oleh masyarakat, apa lagi masyarakat kalangan bawah.Setelah dua ratus meter berjalan menyusuri trotoar Jalan Merdeka yang ramai, kaki Adnan tiba-tiba terhenti.Matanya yang biasanya tenang kini menunjukkan ekspresi terkejut saat melihat seorang bapak berusia sekitar lima puluhan yang duduk bersandar pada tiang lampu jalan, sambil mengeluarkan suara batu
Dia mengeluarkan ponsel yang masih ia gunakan dari kantong celananya. Layarnya ada goresan akibat terjatuh, dan ikon baterai di pojok kanan atas menunjukkan bilah merah tipis yang hampir menghilang. Baterainya hampir habis, pikirnya sambil mengusap layar dengan jarinya.Sebelum itu Adnan mencari tempat sunyi, agar ia tidak di ketahui oleh orang jika ia sedang berinteraksi dengan Sistem."Bagaimana caranya menghubungkannya dengan ponselku?" tanya Adnan lagi, Cahaya biru dari sistem menyala lebih terang saat ponselnya ia angkat ke layar sistemnya itu.[Sistem Mendeteksi Perangkat Tidak Kompatibel. Solusi: Gunakan poin untuk meningkatkan perangkat Anda menjadi versi baru yang terintegrasi dengan sistem. Selain itu, setiap hadiah uang yang Anda peroleh dari sistem akan langsung otomatis terkirim ke rekening bank terdaftar atau alamat yang Anda masukkan.]Adnan mengangguk mengerti. Ia ingat bahwa saat pertama kali sistem diaktifkan, ia mendapatkan bonus awal menyelesaikan misi sebanyak 200
"Meskipun begitu, Pak Adnan, Anda tetap datang ke rumah sakit, meskipun kami benar-benar belum menemukan jawaban mengapa Anda bisa pulih dengan cepat dari edema otak yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan. Anda tetap harus melakukan kontrol rutin, karena hasil pemindaian MRI menunjukkan ada massa ganas sekitar 1 cm yang masih bersarang di lobus temporal otak Anda. Jadi jangan pernah melewatkan jadwal berobat dan konsultasi agar kankernya bisa sembuh sepenuhnya," ujar Dokter Adi dengan nada tegas namun penuh perhatian, sambil menekuk badan agar bisa menatap mata Adnan yang lebih tinggi darinya.Adnan terdiam sejenak, jempolnya tidak sadar menggosok lekukan pada pergelangan tangan kanannya, sebuah gerakan yang selalu dia lakukan saat sedang memikirkan sesuatu yang mendalam. Kedua matanya yang biasanya tajam tampak sedikit kabur, seolah sedang melihat jauh melampaui dinding kamar tersebut. Setelah beberapa detik, dia mengangguk perlahan."Baiklah, aku akan datang," jawabnya den
"Tapi Anda tetap harus diperiksa secara menyeluruh, Pak Adnan. Data yang kami dapatkan menunjukkan bahwa hanya satu dari sejuta orang di dunia yang memiliki karakteristik biologis seperti Anda. Ini bukan hanya tentang kesehatan Anda sendiri, tetapi juga bisa menjadi kunci untuk menyelesaikan misteri penyakit langka yang tengah kita hadapi," ujar Dokter Rani dengan nada yang semakin bersemangat, bahkan mulai terkesan bersikeras. Tangannya secara tidak sengaja menjulurkan ke arah Adnan seolah ingin menghalangi gerakan pria itu."Tapi saya tidak bisa, Dokter Rani! Ada begitu banyak masalah yang harus saya selesaikan di luar sana," kata Adnan sambil berusaha dengan susah payah untuk duduk di atas brangkarnya. "Semua biaya perawatan dan pemeriksaan Anda saya yang tanggung sendiri," ucap Dokter Rani dengan nada yang mulai terdengar lebih keras dan penuh keyakinan. "Bahkan masalah apa pun yang Anda hadapi di luar sana, mulai dari masalah keamanan, urusan pekerjaan, hingga hal paling sepele
"Tidak, aku tidak mengkonsumsi obat apa pun," kata Adnan dengan nada yang coba terdengar tenang. Ia terpaksa berbohong, bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi pada tubuhnya berasal dari sebuah potion yang dihasilkan oleh sistem misterius yang muncul di benaknya. Dokter Adi menatap wajahnya dengan seksama. Matanya yang tajam bergerak dari wajah Adnan ke tangannya yang terentang di atas tempat tidur. "Eh, apa aku tidak salah lihat? Bukannya tadi saat kamu masuk ruang operasi, kulit kamu agak menghitam dan kusam akibat komplikasi diabetes yang parah? Tapi sekarang ini... kulit kamu terlihat cerah dan segar seperti orang yang tidak pernah sakit," ujar Dokter Adi sambil meraih tangan Adnan dengan hati-hati, memutarnya ke sana kemari untuk memeriksa setiap detail.Adnan merasa wajahnya mulai memanas. Ia menggaruk pipinya yang sebenarnya tidak gatal, lalu memalingkan wajah ke arah jendela kamar ruangan tersebut yang menghadap taman rumah sakit. "Eh, Anda salah lihat
"Kalau begitu, mari Tuan Adnan, kami akan mengecek tubuh Anda secara menyeluruh dan memastikan kondisi Anda dalam keadaan yang stabil," ujar Dokter Rani dengan tatapan penuh perhatian. Suaranya lembut namun tegas, mencerminkan profesionalisme yang telah dia bangun selama puluhan tahun berpraktik di Rumah Sakit Umum Harapan Kota Pekanbaru. Adnan mengangguk perlahan, matanya sedikit berbinar dengan rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan. Ia mengikuti langkah Dokter Rani dan rekan sejawatnya, Dokter Adi yang telah menangani kasus kanker otaknya. Di benaknya ada pertanyaan. "Hm... Bagaimana dengan tumor yang telah menyebar di otakku? Dan apakah diabetes tipe 2 yang telah menggangguku selama tiga tahun bisa benar-benar hilang setelah meminum potion misterius yang diberikan sistem itu?" tanyanya dalam hati dan ia penasaran apa sudah mulai sembuh. Sesampainya di ruangan pemeriksaan lantai tiga, yang dilengkapi dengan mesin MRI terbaru dan alat pemantau fungsi tubuh canggih,







