Home / Male Adult / Aduh! Kangmas Tak Tahan / Bab.3 Besar dan Kuat

Share

Bab.3 Besar dan Kuat

Author: Author_Lee
last update publish date: 2026-07-30 17:29:48

"Loh, Ndoro Ayu kenapa, Nyu? Kok digendong?" tanya mbok Suti, pelayan Wening yang bertugas mengurus dapur.

Melihat wanita paruh baya itu berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya, Banyu menundukkan pandangannya.

Takut jika akan mendapat teguran dari abdi dalem yang cukup berkuasa itu.

"Kesleo, Mbok," jawab Banyu seraya meletakan tubuh wening di atas kursi kayu dengan hati-hati. "Tolong ambilkan air dingin dan kain, mbok. Buat kompres kaki Ndoro Ayu supaya tidak bengkak," pinta Banyu pada pelayan rumah.

Wanita paruh baya itu segera mengangguk patuh dan berlari ke dapur untuk mengambilkan air dingin yang diminta Banyu.

"Kok bisa kesleo, Ndoro Ayu?" Tanya Mbok Suti seraya meletakan bokor berbahan tembaga berukuran sedang yang berisi air. Abdi dalem itu terlihat sangat cemas meskipun Ndoro Ayunya hanya terkilir.

Wening menatap Banyu sesaat sebelum menjawab pertanyaan Mbok Suti.

"Kurang hati-hati," lirih Wening, mengalihkan pandangannya pada Mbok Suti yang ikut bersimpuh di bawah kaki Wening.

Wening kembali menatap bahu Banyu yang lebar. Membayangkan dirinya bersandar dan bergelayut manja di lengan kokoh pria itu. Ia tak melepaskan pandangannya dari pria yang sedang merawat kakinya yang terkilir. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang membuatnya tertarik pada kusir barunya. Pria itu memiliki daya tarik yang membuatnya penasaran.

Tatapan itu masih tertuju pada surjan lurik berwarna cokelat tua. Pakaian sederhana yang menyembunyikan sesuatu yang kokoh di dalam sana. Ia ingin sekali lagi merasakan kehangatan dekapan pria itu.

Banyu dapat merasakan tatapan itu. Bukan tatapan seorang majikan pada pelayan. Melainkan tatapan seseorang yang mengandung hasrat. Meski sangat tipis dan nyaris tak terlihat, ia mengukir senyum samar yang penuh arti.

"Bagaimana, Ndoro Ayu? Masih sakit?" Pertanyaan Banyu berhasil menarik kesadaran Wening dari khayalan tingkat tingginya. Pria itu tak mendongak, namun ia tahu jika sang majikan salah tingkah.

"Hah? Eh, i-iya. Anu masih sakit," jawab Wening terbata.

"Nuwun sewu, Ndoro Ayu istirahat saja kalau masih sakit. Kalau besok Ndoro Juragan pulang, bisa-bisa saya kena marah, melihat kaki Ndoro Ayu bengkak," usul Mbok Suti khawatir. "Banyu, ayo Ndoro Ayu bawa ke kamar, biar istirahat."

Banyu meletakan kain kompres itu ke dalam bokor. Tak banyak bicara, ia menyelipkan tangannya dibawah lutut dan punggung Wening, kemudian perlahan mengangkatnya menuju kamar.

Jantung Wening kembali berdebar tak karuan. Saat tubuhnya bersentuhan rapat dengan tubuh Banyu. Aroma maskulin yang khas drai pria itu menyergap indera penciumannya. Membuat dadanya riuh seperti genderang yang ditabuh kencang.

Semenit. Waktu yang begitu singkat bagi Wening untuk menikmati pemandangan yang ada di depan matanya.

"Saya pamit, Ndoro Ayu," ucap Banyu sebelum ia keluar dari kamar.

Wening mengangguk seraya tersenyum. Ia menatap Banyu yang keluar lebih dulu dan menutup pintu. Sedangkan Mbok Suti datang dengan membawa bokor yang berisi air hangat dan membantunya menyeka tubuh Wening.

Setelah semua urusan usai, Mbok Suti pamit mundur. Namun tak lantas membuat Wening berbaring. Ia masih terpaku di bibir ranjang kayu jatinya dalam hening.

Bayangan Banyu masih begitu lekat di benaknya.

Ia merebahkan diri perlahan di atas dipan, menurunkan kelambu putih yang melingkupi tempat tidurnya serta menutupi tubuhnya dengan selimut. Takut pikirannya semakin melenceng liat, Wening akhirnya memaksa mata untuk terpejam.

Namun, usaha itu sia-sia. Benaknya justru terisi oleh bayangan Banyu. Ia masih merasakan betapa padat dan kokohnya dada pria itu saat tubuh mereka saling beradu.

Rahang tegas yang ditumbuhi bulu-bulu halus, serta hidungnya yang mancung membuat Wening selalu terbayang-bayang dengan pria yang baru beberapa hari bekerja di rumahnya.

"Kalau badannya saja bagus dan gagah seperti itu, apa mungkin anunya juga sama? Besar dan kuat?" tanya Wening di dalam hati. Pertanyaan yang membuatnya sangat penasaran.

"Astaga! Sangat tidak pantas! Bagaimana bisa istri priyayi memikirkan pria lain? Apalagi seorang kusir!" Wening merutuki pikiran kotornya. "Ini semua salah Kangmas Jayendra, coba kalau ia tadi pagi setuju, aku pasti tidak punya pikiran yang aneh seperti ini. Menyebalkan!"

Wening menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Melakukan meditasi sederhana untuk menenangkan pikirannya. Namun, wajah kusir itu terus terlintas di dalam pikirannya. Suara lembut saat Banyu memanggil namanya terus saja menempel di telinga Wening.

"Aduh, masa cuma gara-gara kusir aku tidak bisa tidur? Yang benar saja!"

Wening mengambil gelas minum yang tersimpan di meja kecil samping ranjang. Menuangkan air yang berasal dari kendi dan menghabiskannya karena tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering.

Wening kembali merebahkan tubuhnya di peraduan, kembali mencoba memejamkan matanya.

Baru sebentar matanya terpejam, Wening tersentak karena mendengar suara pintu kamar di ketuk oleh seseorang. Wening bangkit perlahan seraya menajamkan indera pendengarannya. Memastikan memeng benar ada orang yang mengetuk pintu kamarnya.

Tok... Tok... Tok...

Suara itu pelan dan terdengar sopan. Tapi cukup membuat jantung Wening berdebar kencang. "Siapa, ya?" batinnya.

"Ndoro Ayu." Suara itu terdengar lirih. Ketukan samar pun ikut terdengar bersamaan dengan panggilan itu.

"Siapa? Apa Mbok Suti?" gumamnya lirih. Ia bangkit, menyibak perlahan selimut batik yang menutupi tubuhnya. Kemudian duduk di bibir ranjang seraya menatap ke arah pintu kamarnya yang terkunci.

"Ndoro Ayu, ini saya. Banyu."

"Banyu?" desis Wening dengan kening berkerut. "Ada apa malam-malam kemari?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   22. Wanita Gatal

    "Mbok, kapan nyimas Kanti pergi dari sini?" bisik Marni pada Mbok Suti yang sedang menyiangi kangkung di pawon. Wanita paruh baya itu menoleh pada Marni, lalu pandangannya beralih pada Banyu yang duduk tidak jauh dari tempatnya. "Kenapa kamu tanya seperti itu?" "Karena ku tidak menyukainya, Mbok," bisik Marni dengan wajah cemberut. Ia memutar bola matanya malas. "Loh, apa urusannya kamu yang tidak menyukai Nyimas Kanti? Kita ini cuma abdi, lagipula Nyimas Kanti itu kan tamu Ndoro Juragan, mau sampai kapan Nyimas kanti ada di rumah ini ya bukan urusan kita," jawab Mbok Suti. "Saya cuma kasihan sama Ndoro Ayu, MBok," jawab Marni beralasan. Marni menunjuk ke arah pendopo samping dengan dagunya. "Lihat, Ndoro Juragan ada di rumh tapi perhatiannya ke Nyai Kanti. Ndoro Ayu seperti tidak dianggap." Banyu menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Marni. Di sana, menampakan Jayendra sedang bersenda gura

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   21. Cukup Sekali

    "Sstt!" Desisan halus lolos dari tenggorokan Wening ketika Banyu mendorong tubuhnya semakin dalam. Rasa sempit dan desakan yang teramat kuat membuat jemari Wening makin dalam meremas punggung Banyu, menyisakan bekas kemerahan di sana. "Pelan-pelan, Banyu." Banyu berhenti sejenak, membiarkan tubuh Wening beradaptasi dengan ukuran pusakanya yang merenggangkan kepasrahan wanita itu. Ia memagut bibir Wening lembut, mengalihkan rasa nyeri yang tersisa dengan ciuman-ciuman dalam yang memabukkan. Saat dirasakannya napas Wening mulai teratur dan ritme dadanya kembali berpadu, Banyu mulai bergerak. Pinggulnya terayun dalam tempo yang pelan namun bertenaga, mengirimkan gelombang kenikmatan baru yang asing sekaligus meremukkan seluruh pertahanan Wening. "Milik Ndoro Ayu sempit sekali, saya menyukainya," desis Banyu. "Milikmu yang terlalu besar, Banyu. Sangat terasa

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   20 Aku Siap

    "Bukanya kamu bilang kalau kamu tidak bisa menahannya? Aku juga merasakan hal yang sama, Banyu. Jadi... sepertinya kita tidak perlu malu-malu atau merasa tidak enak, bukan". Banyu tersenyum samar. Saking tipisnya, Wening bahkan tidak menyadari hal itu. "Akhirnya!" pekik Banyu dalam hati. "Tapi, di tempat ini sepertinya akan tidak nyaman, Ndoro Ayu. hanya ada tikar pandan. Saya takut, Ndoro Ayu..." Wening mengangkat tubuhnya, berpindah ke pangkuan Banyu tanpa melepaskan lengannya dari leher pria itu. "Jangankan tikar tipis, Banyu. Bahkan batu saja teras empuk jika gairah sudah membara," balas Wening dengan nada sensual penuh godaan. Banyu tersenyum. Di dalam hati, ia membenarkan ucapan Wening. Jika gairah mendominasi, maka akal sehatpun mendadak tidak ada. Sama seperti apa yang sedang di lakukan oleh Wening saat ini. "Cium aku, Banyu!" "Dengan senang hati, Ndoro," bisik Banyu seraya mendaratkan ciuman di bibir Wening sesuai permintaannya. Tangan Banyu melingkar di ping

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   19. Menagih Janji

    "Ndo-Ndoro Ayu membutuhkan sesuatu?" tanya Banyu tergagap dengan hati yang berdebar. Ia mencubit tangannya sendiri. Memastikan jika yang berdiri di depannya bukanlah mimpi. Wanita priyayi, seorang istri dari Juragan tempatnya mengabdi malam-malam datang ke biliknya yang hanya seorang pelayan. Wening sedikit tersentak saat Banyu membuka pintu dalam keadaan telanjang dada. Sesuatu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan, malam ini ia dapat melihatnya dibawah cahaya remang lampu teplok yang tersemat di dinding. Banyu yang baru menyadari penampilannya, segera meraih baju lurik yang tergantung tidak jauh dari tempatnya berdiri, lalu memakaiannya. "Kamu tidak menyuruhku masuk?" Banyu semakin tergagap. Buru-buru ia menggeser tubuhnya dan mempersilakan Wening untuk masuk ke dalam biliknya. "Mo-monggo Ndoro." Wening langsung duduk di dipan yang terbuat dari bambu dan beralaskan tikar pandan. Bilik yang berukuran kecil itu tampak rapi dengan perlengkapan sederhana. Wening menatap Ban

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   18. Kamar Pelayan

    Sepeninggal Banyu, Wening bangkit dan duduk di bibir ranjang. Tatapannya tertuju pada nampan yang berisi makanan yang diantar Banyu tadi. Wening menarik napas kasar. Kemudian berjalan menuju meja rias. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, lalu merapikan rambutnya. Pipinya penuh dengan jejak air mata yang sudah mengering. Namun wajahnya masih terlihat sembab dengan mata yang merah. Ingatannya kembali saat pagi tadi. Setelah mereka selesai sarapan, Wening mengajak Jayendra untuk bicara empat mata. Ia mempertanyakan kedatangan Kanti yang tanpa izin darinya. Dan membuat kericuhan di kediaman. Alih-alih meminta maaf karena ceroboh, Jayendra malah menganggap jika apa yang dilakukannya sudah benar. Suaminya juga meminta Wening untuk tidak mempermasalahkan kedatangan Kanti di kediaman. "Sebagai Nyonya rumah, seharusnya kamu bisa menyambut dengan baik tamu yang datang. Lagipula, Kanti ini masih kerabat dengan keluarga kita." Kalimat itu keluar dari mulut Jayendra. Yang semak

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Bab 17. Mumpung Tidak Ada Orang

    Wening mersa dirinya dihantam godam besi bertubi-tubi. Tidak hanya hinaan dari ibu mertua serta adik iparnya. Namun yang paling membuat hatinya sakit adalah, suaminya bahkan tidak ada satu katapun yang keluar untuk membelanya. Seolah ia sependapat dengan apa yang dikatakan oleh ibu dan adiknya. "Sani, kamu jangan seperti itu sama Mbakyumu. Kangmas Jayendra kan perkasa, tidak mungkin Kangmas tidak bisa memberikan keturunan," ujar Kanti seraya melempar tatapan penuh arti pada Jayendra. "Mungkin kalian hanya harus bersabar dulu." "Sabar?" ulang Kanjeng Ibu. "Kurang sabar apa kami, Nduk? Mereka sudah tiga tahun menikah, tapi belum ada tanda-tanda adanya keturunan Jayendra. Seperti yang kamu bilang tadi, kalau Jayendra itu perkasa. Ibu tahu kalau di keluarga Ibu semuanya subur. Tidak mungkin kalau Jayendra tidak bisa menghamili istrinya. Kecuali..." Kanjeng Ibu sengaja menggantung kalimatnya. Ia melempar tatapan sinis ke arah Wening yang juga ten

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status