Mag-log inKembali ke Eren, sepulang sekolah Eren langsung menuju ke tempat Panji, di mana Panji mengabarinya semalam kalau Eren diterima untuk menjadi pengawal putri Tuan Boris. Setibanya di tempat Panji, saat itu juga Panji mengantar Eren menuju kediaman Tuan Boris."Ingat Eren, tugasmu cuma mengawal putrinya, dan satu lagi, apa pun yang ditugaskan Tuan Boris untukmu nanti kamu harus siap, oke? Kelihatannya saja mudah, tapi nyatanya ini cukup berbahaya, di mana kamu harus jeli dalam semua hal. Tuan Boris memiliki banyak saingan bisnis yang bisa saja mengancam keluarganya. Itulah mengapa dia mencari pengawal buat putrinya," pesan Panji agar Eren selalu siap siaga nantinya dalam tugas yang dilaluinya."Baik, aku mengerti," balas Eren dengan suara dingin khasnya.Singkat waktu, mereka pun tiba di kediaman Tuan Boris yang ternyata cukup besar dan luas. Sebelum masuk saja mereka harus melewati beberapa pengawal yang berjaga di sana."Tunggu Panji, ini pengawal di sini sudah lumayan banyak. Kenapa T
Cerita beralih ke Jakarta. Di sebuah rumah mewah dan besar terlihat tiga orang paruh baya berumur sekitaran lima puluhan dan ada juga yang tiga puluhan. Mereka semua adalah Roni dan keempat istrinya. Entah apa yang mereka obrolin hingga tawa terdengar begitu menggema di dalam rumah itu.Dari dulu sampai sekarang keluarga itu memang selalu kompak.“Roni, tak terasa ya kita semakin menua saja. Padahal rasanya baru kemarin kamu menikahiku,” suara wanita yaitu Miya, istri ketiga Roni.“Iya, begitulah. Tapi aku bahagia sekali kalian masih tetap kompak sampai sekarang. Awalnya aku mengira aku bakal kehilangan salah satu dari kalian, tapi ternyata kalian bertahan juga dengan satu pria yang memiliki empat istri,” ujar Roni.“Iya, asalkan kamu nggak nambah lagi. Kalau berani sampai nambah lagi mungkin di antara kami ada yang pergi,” timpal Mbak Maya yang bersuara.“Eh nggak mungkin deh. Siapa juga yang tertarik dengan pria tua sepertiku? Tapi kalau aku masih muda sih ada kemungkinan kayaknya h
“Sudah, Viktor, lain kali saja. Eren baru saja pulang sekolah, dia pastinya masih capek. Biarkan dia beristirahat dulu,” kata Panji.Akan tetapi, temannya yang bernama Viktor itu justru tertawa saat mendengar ternyata ada anak sekolah yang direkrut oleh Panji sebagai anggota kelompok mereka.“Haha, serius kau, Panji? Dia masih sekolah! Astaga, ada apa denganmu? Apa kamu kurang sehat hingga merekrut anak kecil yang masih butuh pendidikan? Sudah, Panji, lebih baik dia jangan diajak gabung, deh. Nanti malah tambah ribet,” kata Viktor. Hal itu tentu saja langsung memancing amarah dalam diri Eren yang sedari tadi diam.Tanpa berbicara, Eren melangkah naik ke atas ring, tandanya dia menerima tantangan Viktor.Melihat itu, Viktor tersenyum sambil naik juga ke atas ring.“Hai bocah, aku peringatkan ya, ini cuma latihan. Kalau kamu cidera, jangan salahkan aku. Tapi tenang saja, aku pastinya akan lebih menahan diri, tak mungkin aku mengeluarkan terlalu banyak tenaga,” kata Viktor begitu sombong
“Arif... kamu tidak perlu menikahi saya. Tanpa dinikahi pun saya akan selalu ada buat kamu, siap memberikan apa pun yang kamu butuhkan, sama seperti sekarang,” ujar Erni, pengasuhnya itu menolak untuk dinikahi.“Tapi kenapa? Bukankah akan lebih baik jika saya menikahi Mbak?” tanya Arif bingung dengan penolakan Erni.“Arif, kamu itu masih muda dan tampan. Tidak pantas kamu menikahi wanita yang lebih tua seperti saya. Apa kata orang nanti? Saya tidak mau dianggap memanfaatkan kamu,” kata Erni menjelaskan.Arif terdiam, di mana awalnya Arif mengira Erni akan sangat senang jika dia mengajaknya menikah, tapi nyatanya Erni malah menolak lamarannya.“Sudah, jangan sedih. Tanpa pernikahan pun saya tetap siap kok menemani kamu. Ini mau dilanjutin atau tidak?” kata Erni.Karena Arif yang juga punya penyakit yang sama seperti mendiang ibunya tentu saja tidak mau berhenti. Dia menarik Erni, memeluk, dan menciumnya untuk melanjutkan kedekatan mereka seperti biasanya.Flashback pada waktu di mana h
Lima belas tahun berlalu setelah kehidupan yang begitu bahagia dirasakan oleh Roni dan keluarganya, dan sekarang cucunya yang bernama Eren sudah remaja. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan sekarang Roni sudah bertambah tua, akan tetapi walaupun usianya yang menginjak lima puluh tahun, dia masih tetap terlihat awet muda, tak ada sedikitpun terlihat menua. Begitu juga dengan istrinya yaitu Mbak Maya yang juga terlihat awet muda.Saat ini, Roni sedang berbincang-bincang dengan istri-istrinya, menceritakan masa-masa indah yang mereka lewati bersama yang terasa begitu cepat. Tepat di saat mereka sedang asyiknya menceritakan masa-masa indah itu, salah satu putranya yaitu Bara datang ke sana.Wajah Bara terlihat lesu dan sedih, karena kepikiran dengan kenakalan putranya yang begitu nakal di mana putranya Eren lagi-lagi dikeluarkan dari sekolahnya dan ini adalah kali ketiganya putranya Eren dikeluarkan.“Ada apa dengan wajahmu, apa sesuatu telah terjadi?” tanya Roni kepada Bara.“Eren…
“Liona, apa pelakunya sudah ketemu?” tanya Ali, saat Liona menyuapinya nasi dengan begitu perhatian.Mendengar pertanyaan itu, Liona jadi ingat kejadian malam yang begitu brutal dilakukan oleh kakak iparnya. “Iya sudah. Pelakunya adalah Riki. Dia membayar orang buat melukaimu. Tapi sekarang dia sudah ditangkap dan dipenjara,” jelas Liona.Melihat wajah Liona tampak berubah saat membahas soal itu membuat Ali salah paham. Ia mengira Liona sedih karena pelakunya adalah Riki, orang yang pernah menjalin asmara dengannya.“Sepertinya dia memang masih sangat mencintaimu hingga rela melakukan semua itu,” kata Ali, cemburu.“Ali… Walaupun dia masih mencintaiku, tetap saja aku adalah milikmu. Perasaanku sudah tidak ada lagi buatnya. Karena keegoisannya, sekarang dia mendekam di penjara,” jawab Liona, seakan membaca isi pikiran Ali.“Ya, tetapi aku melihat ada kesedihan dalam dirimu. Aku mengerti kok, kamu pasti sedih karena bagaimanapun kalian pernah menjalin hubungan,” ucap Ali masih salah pah
Tiba-tiba Ali meneteskan air mata di saat Liona sedang menatap wajahnya, sepertinya Ali sedang memimpikan sesuatu yang begitu menyedihkannya hingga membuatnya sampai meneteskan air mata. Liona yang sedari tadi menatapnya pun terkejut, ia menjulurkan tangannya hendak mengusap air mata itu. Dan, “Sa
Roni mulai menyentuh dada Miya yang membuat Miya menutup matanya. Saat Roni menyadari bahwa dada Miya besar, dia semakin tidak bisa menahannya. Roni membantu Miya melepaskan bajunya dan mencium lehernya, sementara tangan Miya diarahkan ke sosis hangat Roni, sementara tangan Roni bermain di dada Miy
Pagi itu, Roni mengeluarkan ponsel yang diberikan Bobi kepadanya dari dalam tas dan menanyakan cara menggunakannya. “Miya, tolong dong kamu ajarin dia sampai bisa, ya,” pinta Bobi kepada Miya agar mengajarkan Roni cara menggunakan ponsel. “Baiklah, sini aku ajarin. Begini ya caranya,” kata Miya s
Malam semakin larut, dan suhu semakin dingin terasa karena hembusan angin malam di pantai itu. Namun, Roni dan Miya masih betah mengobrol di depan api unggun yang sudah hampir mati, menyisakan arang yang berpendar samar.Miya mulai bercerita tentang masa kecilnya yang ternyata pernah tinggal di kam







