分享

BAB. 331

last update publish date: 2026-06-17 23:48:52

Celine semakin mempererat pelukannya, membiarkan pundak tegapnya menjadi tempat bersandar bagi tangisan Kayra yang pecah seutuhnya. Air mata Celine sendiri ikut luruh, membasahi pucuk kepala sahabatnya. Tubuh Kayra yang terguncang hebat di dalam dekapannya membuat sisa-sisa rasa canggung di antara mereka menguap tak berbekas.

​“Aku udah maafin kamu, Kay... Bahkan sebelum kamu minta maaf, aku nggak pernah sedikit pun nyimpan dendam sama kamu,” bisik Celine teramat lirih, suaranya bergetar hebat
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 332

    ​“Hala... lari marathon apaan? Dari kasur ke kamar mandi aja Papa kadang masih suka pegangan pinggang, sok-sokan mau lari marathon beneran,” cibir Kayra tanpa ampun, membalas argumen papanya dengan nada super lempeng. “Gengsi banget sih, Pa... Ngakuin kalau udah berumur.”Mendengar ucapan tak terduga dari putrinya, Aldean seketika bungkam dengan mulut sedikit terbuka, kehilangan kata-kata. Pria matang berkepala empat itu langsung menoleh ke arah Celine dengan tatapan mengadu, seolah meminta pembelaan atas harga dirinya yang baru saja diinjak-injak oleh anak sendiri.​Sementara itu, Celine yang sejak tadi berdiri di sisi Aldean memilih untuk tidak ikut nimbrung dalam perdebatan renyah tersebut. Ia hanya tersenyum manis, memandangi interaksi menggemaskan di depannya dengan binar mata yang dipenuhi rasa haru dan kebahagiaan yang teramat buncah.​“Udahlah, Pa... Nggak usah pamer-pamer lagi,” lanjut Kayra sembari melipat kedua tangannya di depan dada, pura-pura merengut.Aldean sungguh tid

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 331

    Celine semakin mempererat pelukannya, membiarkan pundak tegapnya menjadi tempat bersandar bagi tangisan Kayra yang pecah seutuhnya. Air mata Celine sendiri ikut luruh, membasahi pucuk kepala sahabatnya. Tubuh Kayra yang terguncang hebat di dalam dekapannya membuat sisa-sisa rasa canggung di antara mereka menguap tak berbekas.​“Aku udah maafin kamu, Kay... Bahkan sebelum kamu minta maaf, aku nggak pernah sedikit pun nyimpan dendam sama kamu,” bisik Celine teramat lirih, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi di dadanya.​Celine melonggarkan pelukannya perlahan. Kedua tangannya bergerak lembut menangkup wajah pucat Kayra, lalu ibu jarinya dengan telaten menghapus jejak-jejak air mata yang membanjiri pipi gadis itu.​“Aku tahu kamu marah karena kamu kecewa banget sama aku. Itu wajar, Kay. Jadi stop nyalahin diri kamu sendiri, ya? Yang penting sekarang kamu fokus buat sembuh,” lanjut Celine dengan binar mata yang memancarkan ketulusan mutlak.​Kayra menatap mata bening Celine yang b

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 230

    Di sisi kiri brankar, sepasang mata elang Aldean menangkap dengan sangat jelas gurat kedilemaan yang sedang menyiksa putrinya.Sebagai pria dewasa yang cerdas dan penuh perhitungan, Aldean tahu ego Kayra tidak akan pernah benar-benar runtuh selama ada dirinya yang bertindak sebagai penengah di sini. Mereka harus dibiarkan berdua. Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh dia sia-siakan.Maka, dengan gerakan yang teramat natural, Aldean meraba saku celananya. Ia mengeluarkan ponselnya yang sebenarnya layarnya gelap total, lalu menempelkannya ke telinga seolah-olah benda itu baru saja bergetar.“Ah... iya, halo? Selamat sore,” ucap Aldean, aktingnya begitu sempurna hingga Celine sempat terkecoh.Pria itu menoleh ke arah Celine dengan raut wajah yang dibuat seolah sedang mendesak. “Sayang, aku ada telepon penting dari klien luar negeri. Aku harus angkat di luar sebentar karena sinyal di sini kurang bagus. Kamu... bisa tolong bantu Kayra menyeka tubuhnya dulu, hmm?”Deg.Celine dan Kayr

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 229

    Hening hangat menyelimuti kamar rawat selama beberapa saat. Tidak ada yang berbicara, namun entah kenapa keheningan kali ini terasa jauh berbeda dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak lagi menyesakkan, tidak lagi dipenuhi amarah, justru terasa damai.Celine kembali menyendok bubur dan menyuapkannya kepada Kayra. Kali ini gadis itu tidak banyak protes, meski sesekali masih mendecak atau menggerutu pelan.Setelah beberapa suapan berikutnya, mangkuk bubur itu akhirnya hampir kosong.“Habiskan ya, Kay... tinggal tiga suap lagi,” ujar Celine.Kayra langsung mengerang. “Masih banyak.”“Tiga suap doang.”“Dua.”“Tiga.”“Dua setengah.”Celine menatap Kayra datar, sementara Kayra membalas tatapan itu tak kalah datar.Melihat itu, Aldean menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan tawa. Pria matang itu lalu duduk di kursi yang ada di sisi lain brankar, menatap bergantian putri dan istrinya dengan senyum penuh arti. “Aku baru sadar sesuatu,” seloroh Aldean tenang, memancing perhatian kedua p

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 228

    Kayra mengunyah suapan bubur yang diberikan Celine dengan perlahan. Sesekali Kayra menunduk dalam, pura-pura sibuk merapikan ujung selimutnya yang sebetulnya sudah rapi, hanya demi menghindari tatapan Celine yang duduk tepat di samping ranjang.Suasana di dalam kamar rawat masih dipenuhi kecanggungan yang samar. Tidak ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi tatapan tajam, tetapi juga belum ada kehangatan yang dulu pernah begitu akrab di antara mereka.Celine kembali menyendok bubur dari bagian pinggir mangkuk.“Pelan-pelan ya, Kay... masih panas,” ujarnya lembut.Kayra hanya mengangguk kecil. Dasarnya Kayra memang gadis remaja yang egonya setinggi langit, ia terus memalingkan wajahnya dari Celine—entah itu menunduk atau menoleh ke arah jendela.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Aldean yang sejak tadi bersandar di dekat pintu sengaja tidak ikut campur. Ia membiarkan keduanya menemukan jalan mereka sendiri.Celine kembali menyodorkan sesendok bubur. Namun kali ini, begitu bubur ma

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 227

    Begitu sampai di depan pintu kayu kamar rawat Kayra, Aldean menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh pada Celine, memberikan remasan lembut pada jemari istrinya seolah menyalurkan kode rahasia berupa penguat. ​“Siap, Sayang?” bisik Aldean dengan suara baritonnya yang meneduhkan. ​Celine menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu mendongak menatap sang suami dengan binar mata yang mantap. “Siap, Mas.” ​Aldean tersenyum tipis, lalu tangan kirinya bergerak memutar knop pintu secara perlahan, mendorongnya pelan agar tidak menimbulkan suara bising yang bisa mengejutkan Kayra di dalam. Pintu geser itu terbuka tanpa suara. Begitu menapakkan kaki di dalam ruangan bernuansa putih itu, Aldean dan Celine langsung menyadari bahwa sepasang netra yang tadinya terpejam, kini telah terbuka seutuhnya. Kayra ternyata sudah terbangun dari tidurnya. ​Mendengar desau halus pintu yang terbuka, Kayra menolehkan kepalanya perlahan di atas bantal. Detik itu juga, matanya langsung me

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status