เข้าสู่ระบบ“Akhem.”Darrel berdehem pelan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.“Kamu... beneran nggak apa-apa, Cel? Nggak terpaksa karena Shaka?”Celine menggeleng pelan, senyumnya semakin melebar. “Beneran, Kak Darrel. Lagipula... aku juga udah lama banget nggak naik wahana itu.”“Sama seperti dulu saat Mama masih ada,” sambung Celine dalam hatinya, merasakan kehangatan yang perlahan mengalir menggantikan rasa dingin di dadanya malam ini.“Horeee! Naik kincir angin bertiga!” sorak Shaka heboh.Ia gegas melepaskan diri dari pangkuan Celine, melompat kecil sambil menarik tangan Celine dan Darrel agar segera berdiri.Darrel akhirnya terkekeh geli, rasa canggungnya menguap digantikan oleh perasaan hangat yang membuncah. Ia berdiri, berjalan di sisi Celine seraya menuntun langkah kecil Shaka menuju antrean wahana.Saat mereka berjalan beriringan di bawah pendar lampu taman yang temaram, dari kejauhan, mereka benar-benar terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang utuh, bahagia, dan
Shaka yang berada di pangkuan Darrel tiba-tiba memiringkan kepala. Sepasang mata bulat anak kecil itu menatap lekat ke arah Celine. Bukannya takut atau bersembunyi di dada Darrel seperti biasanya saat bertemu orang asing, anak itu justru mengulurkan tangan kecilnya yang bebas dari balon. “Kakak cantik siapa?” tanya Shaka dengan suara cempreng khas anak kecil, wajahnya tampak begitu penasaran. “Kakak temannya Papa Darrel, ya?” Celine menoleh, melihat binar polos di mata Shaka. Senyuman kaku di bibirnya perlahan mencair menjadi senyuman tulus yang sangat hangat. “Hai, Sayang. Nama Kakak, Celine. Kamu lucu banget, sih.” “Kakak Celine...” Shaka mengeja nama itu dengan menggemaskan, lalu tiba-tiba ia menggeliat turun dari pangkuan Darrel. Tanpa diduga sama sekali, anak laki-laki berkemeja merah kotak-kotak itu melangkah mendekati Celine, lalu menepuk-nepuk paha Celine dengan percaya diri. “Kakak, Shaka mau duduk di sini boleh? Mau lihat kincir angin raksasa sama Kakak!” Melihat tin
Celine terpaku menatap sosok pria yang berdiri tegap di hadapannya.Wajah pria itu tegas namun ramah, mengenakan mantel kasual yang membuatnya tampak matang dan berkarisma. Ingatan masa kuliah Celine berputar cepat.“...Kak Darrel?” bisik Celine, hampir tidak percaya.Pria itu langsung tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kehangatan.“Ternyata kamu beneran Celine. Astaga, aku kira aku salah lihat tadi.” Darrel melangkah mendekat, lalu menunjuk ruang kosong di bangku besi itu. “Boleh aku duduk?”Celine mengangguk kaku, masih sedikit terkejut. “B-boleh, Kak. Silakan.”Darrel duduk dengan sopan, memberi jarak yang nyaman di antara mereka. Ia menoleh, menatap lekat wajah Celine dengan tatapan penuh perhatian.Sebagai pria yang peka, Darrel menyadari hidung Celine yang memerah dan sisa-sisa air mata yang buru-buru dihapus perempuan itu tadi. Namun, Darrel memilih untuk berpura-pura tidak melihatnya demi menjaga kenyamanan Celine.“Lama banget ya nggak ketemu, Cel. Kamu apa kabar?” t
Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari Aldean, suara gelak tawa anak-anak, alunan musik riang dari komidi putar, dan aroma manis berondong jagung menyambut kedatangan Celine saat ia melangkah melewati gerbang Taman Ria Semesta. Tempat itu masih sama seperti belasan tahun lalu. Ramai, bising, dan penuh dengan binar kebahagiaan. Namun bagi Celine, semua keriuhan di sekitarnya terasa hambar. Dunia di sekelilingnya bergerak cepat, sementara dirinya seolah terkunci dalam ruang waktu yang sunyi dan membeku. Dengan langkah pelan, Celine berjalan menuju sebuah bangku panjang berbahan besi di sudut taman, tepat di bawah pohon rindang yang menghadap langsung ke wahana kincir ria—sebuah bianglala raksasa yang berputar lambat, memamerkan pendar lampu warna-warni yang cantik menantang langit malam. Celine mendudukkan tubuhnya yang lemas. Tatapannya terkunci pada salah satu gondola bianglala yang perlahan bergerak naik. Seketika, dinding pertahanan di kepalanya runtuh. Memori belasan ta
Pertanyaan itu menguap begitu saja, tenggelam dalam kesunyian apartemen yang kian terasa mencekik. Aldean merogoh saku jasnya dengan gerakan kasar, menyambar ponselnya dengan tangan yang mulai bergetar hebat.Ia segera mendial nomor Celine, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan napas yang memburu. Tut... tut... tut...Nada sambung terdengar. Jantung Aldean berdegup kencang seirama dengan bunyi itu. Namun, hingga nada sambung itu habis dan panggilan terputus otomatis, tidak ada jawaban.“Angkat, Sayang... Please, angkat,” bisik Aldean frustrasi.Ia mencoba menekan tombol panggil ulang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Pada percobaan keempat, kepanikan Aldean semakin memuncak saat suara operator dingin mengambil alih, menyatakan bahwa nomor yang ia tuju kini sudah tidak aktif.Celine sengaja mematikan ponselnya?Istrinya sengaja memutus akses dengannya?“Sialan!” Aldean mengumpat, suaranya meninggi memenuhi ruangan kosong itu.Dengan kasar, dia menjambak rambutnya sendiri.
“Justru karena itulah, Evan... aku tidak akan membiarkan Kayra mengetahuinya sekarang,” kata Aldean dengan suara bariton yang tenang, namun penuh penekanan yang mutlak. Evan mengernyitkan alis. Keraguan dan rasa tidak mengerti tergambar jelas di wajah asisten itu. “Maksud Anda, Tuan? Bukankah itu jalan keluar paling cepat untuk memperbaiki semuanya?” Aldean melangkah mendekati meja laci di sudut ruangan, lalu bersandar di tepinya dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Tatapannya lurus menatap tajam ke mata Evan. “Aku tidak mau Kayra kembali bersikap baik atau merangkul Celine cuma karena dia merasa bersalah atas dosa-dosa mamanya,” tegas Aldean, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang dalam. “Aku tidak mau hubungan mereka membaik karena dasar kasihan, rasa utang budi, atau ketakutan karena merasa dirinya adalah anak seorang pembunuh.” Aldean menjeda kalimatnya, mengembuskan napas pendek yang terdengar begitu berat, matanya menerawang menatap langit-langit ruangan. “







