ログインCeline terpaku, mengikuti arah pandang suaminya. Kayra masih berbicara dengan salah satu pelayan sambil melangkah menuju ruang tengah. Wajah gadis itu tampak jauh lebih hidup dibanding beberapa hari yang lalu.Celine mengerti. Rumah sebesar ini memang terlalu sepi jika hanya dihuni Kayra seorang diri. Lagi pula, ia juga tidak tega membiarkan sahabatnya sendiri dalam keadaan gadis itu yang seperti sekarang.“Gimana, Sayang? Kamu mau?” tanya Aldean lagi, seketika membuyarkan lamunan Celine.Perempuan itu tersenyum kecil. “Iya, Mas... aku mau,” jawabnya akhirnya.Mendengar jawaban itu, Aldean mengembuskan napas lega. “Terima kasih, Sayang.”Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, Kayra tiba-tiba berbalik.“Kalian ngapain di situ?” Tatapannya bergantian mengarah pada Aldean dan Celine. “Kok nggak masuk?”Celine tertawa pelan. “Iya, Kay... ini juga mau masuk.”Kayra melangkah mendekati mereka, matanya penuh selidik.“Tapi bentar. Apa yang barusan kalian bicarain?”Aldean dan Celine sa
Gavin langsung menelan ludah.“M-maaf... saya salah ngomong, Om.”Aldean terdiam, menatap Gavin tajam sebelum berkata, “Saya tahu. Maksudmu... saya baru saja merestui hubungan kalian, begitu?”“E-eh...” Gavin terkekeh canggung. “Keceplosan, Om. Saya... salah pilih kosakata.”Tatapan Aldean tak berubah sedikit pun. “Menarik.”Deg.Gavin menelan ludah lagi.“Berarti... kamu sudah mulai memikirkan sejauh itu.”Mata Gavin langsung membulat. “B-bukan gitu maksud saya, Om! Belum sampai sana! Saya masih miskin! Saya bahkan belum berani manggil Om 'Papa'!”Hening.Aldean tetap menatap tanpa ekspresi. Gavin baru sadar, dia malah memperparah keadaan.“Saya pamit, Om.”Kalimat itu keluar jauh lebih pelan. Gavin lalu berbalik, hampir berlari meninggalkan koridor. Baru beberapa langkah, suara Aldean menghentikannya.“Gavin.”Deg.Pemuda itu langsung berhenti. Perlahan ia menoleh, wajahnya sudah seperti orang yang pasrah menerima takdir. Aldean berdiri tenang, sudut bibirnya terangkat tipis, hampir
Gavin menutup pintu kamar rawat dengan perlahan. Begitu berbalik, langkahnya langsung terhenti.Di ruang tunggu yang sepi itu, Aldean sedang duduk bersedekap dada. Tatapan tajam pria matang itu langsung mengunci Gavin. Jantung Gavin seolah turun ke perut. Aura Aldean benar-benar tidak main-main saat ini.Koridor rumah sakit yang seharusnya tenang mendadak terasa seperti ruang interogasi. Gavin menelan ludah, lalu melangkah mendekat.“S-selamat sore menjelang malam, Om,” sapa Gavin, suaranya bergetar tipis.Aldean tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit perlahan dari kursinya. Tingginya yang jauh di atas rata-rata membuat Gavin refleks menegakkan punggung.“Kamu tahu kenapa saya minta bicara berdua, Gavin?” suara Aldean rendah dan datar, namun cukup untuk membuat tengkuk Gavin menegang.“B-belum tahu, Om.”Aldean menatap Gavin beberapa saat.“Karena kamu sudah membuat kesalahan yang fatal.”Gavin langsung menunduk. Ia sudah menduga pembicaraan ini akan mengarah ke mana.“Maksu
Beberapa saat kemudian, Aldean dan Celine kembali melangkah menyusuri koridor lantai perawatan setelah menyelesaikan makan sore di kantin bawah. Sementara itu, di ruang rawat, Kayra masih ditemani oleh Gavin.“V-Vin... kamu tahu?” bisik Kayra setengah terbata, melirik pintu kamar rawat dengan waswas. “Sebenernya Papa sama Celine tuh... udah nikah.”Uhuk!Gavin tersedak ludahnya sendiri sampai matanya nyaris melompat keluar dari kelopak. Pemuda itu membeku di kursinya, menatap Kayra dengan raut wajah yang luar biasa syok.“K-kamu bercanda, kan, Kay? Celine?! Temen kita... sekarang jadi Ibu sambung kamu?!”“Sssttt! Pelanin suara kamu, Gavin Alistair!” sergah Kayra panik, tangan kirinya bergerak cepat mencubit lengan Gavin. “Ini rahasia besar! Jangan sampai bocor ke anak-anak kampus, awas aja kalau kamu keceplosan. Aku kasih tahu kamu sekarang biar kamu nggak salah bersikap.”Gavin menelan ludah dengan susah payah, mendadak merasa pusing tujuh keliling. Jiwa humorisnya seketika meron
Gavin seketika membeku. Sepasang matanya melebar, terkejut mendengar ucapan Kayra barusan. Namun, keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik. Melihat kekasihnya histeris dengan tubuh yang gemetar hebat karena didera rasa bersalah, Gavin segera merengkuh Kayra dalam pelukan hangatnya, berusaha menenangkan.“Ssst... dengerin aku, Kay,” bisik Gavin tegas namun teramat lembut tepat di telinga gadis itu. “Tuhan tuh nggak se-pendendam itu. Dan kamu juga lihat sendiri, kan? Celine bahkan senyum tulus banget ke kamu tadi. Dia pasti udah maafin kamu sepenuhnya, kan? Kalau dia aja udah buka lembaran baru, kenapa kamu masih sibuk ngehukum diri sendiri?”Gavin mengurai pelukannya perlahan. Kedua tangannya bergerak lembut menangkup wajah pucat Kayra, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang memancarkan keyakinan mutlak, membuat isak histeris Kayra terhenti.“Dan satu hal yang harus kamu tahu, Kay. Aku bakal selalu ada di sini buat nemenin kamu. Aku yakin, tanganmu past
Begitu pintu kamar rawat tertutup rapat, keheningan yang tersisa di dalam ruangan mendadak terasa jauh lebih ringan. Gavin masih berdiri mematung di posisi terakhirnya, menatap daun pintu dengan pandangan kosong.Perintah terakhir Aldean barusan benar-benar tidak bisa dibantah.“Gavin...” Panggilan lirih itu akhirnya memecah lamunan pemuda itu.Ia mengerjap, lalu perlahan memutar tubuh sepenuhnya menghadap brankar. Di sana, Kayra sedang menatapnya dengan binar mata yang campur aduk—antara cemas, bersalah, tapi juga tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.Gavin mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa aura mengintimidasi Aldean yang seolah masih menggantung di udara. Ia melangkah lebih dekat, lalu duduk di kursi kosong yang berada tepat di sisi ranjang Kayra.“Papa kamu... auranya bener-bener nggak main-main, Kay,” cicit Gavin jujur, menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. “Aku berasa lagi diuji mental buat masuk perusahaan multinasional.”Kayra tidak bisa men







