مشاركة

Chapter 25 =Meminta Bantuan=

مؤلف: daydreammm_ms
last update تاريخ النشر: 2026-07-06 22:06:39

Ridhika celingukan mencari sosok Bagastya di sekitar bangunan asrama biasa. Dia harap, pria itu ada di sana. Sebab, tidak mungkin baginya untuk mencari di wilayah Kelas Antagonis.

Widuri bisa stres kalau sampai mengetahui dia nekad pergi ke sana dalam keadaan wajah seperti ini. Sekarang saja, dia sudah bisa membayangkan gadis itu mengomelinya tentang reputasi dan semacamnya jika hal itu benar terjadi.

"Eh, Nona Protagonis, kan?" Tukang masak yang kemarin Ridhika temui di dapur kafetaria datang
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 35 =Kebaikan Hati=

    "Ada apa? Apa kalian sudah meminta izin dari Guru masing-masing untuk keluar pada jam pelajaran seperti ini?" Tanya Ibu Binar dengan tangan terlipat di atas meja. Raut wajahnya bahkan kini lebih serius daripada tadi."Kami sudah minta izin, Bu," jawab salah satu siswi yang adalah Amayra.Ridhika menatap Amayra dan 2 orang siswa serta siswi yang dia kenali sebagai penghuni asrama biasa di belakang gadis itu. Dia tidak tahu apa yang akan mereka jelaskan tentang dirinya kepada Ibu Binar, tetapi jantungnya berdebar penuh antisipasi.Melalui sudut matanya, dia melirik reaksi Ibu Binar. Sepertinya sang Guru tidak keberatan dengan kedatangan siswa dan siswi tersebut. Jadi, bisakah dia berharap masih ada kesempatan baginya untuk mempertahankan sisa poinnya?"Baik. Kalau begitu, cepat bicara," putus Ibu Binar, mengisyaratkan pada para siswa dan siswi yang berdiri di ambang pintu agar segera masuk. "Kalian harus cepat kembali ke kelas masing-masing."Amayra memimpin siswa dan siswi lainnya untu

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 34 =Menunggu=

    "Di kamar itu mungkin ada seribu ramuan! Aku tidak bergurau! Memang sebanyak itu. Tanya saja Amayra!" Keluh Widuri berapi-api. Sementara Amayra turut menjelaskan bagaimana mereka membongkar seluruh kamar Adishra untuk mencari ramuan yang tampak mencurigakan, Ridhika justru sibuk memperhatikan satu-persatu botol ramuan yang dibawa oleh kedua gadis tersebut. Ada sekitar 12 botol dan semuanya berwarna sama, kuning pucat. "Untunglah aku sempat bertanya kepada Nenek Dokter tentang ciri-ciri Tvakvisa. Kami membawa semua ramuan yang mirip dengan deskripsi beliau." Ridhika masih memainkan beberapa botol ramuan di tangannya. Lalu, dia menengadah, menatap Widuri dan Amayra yang kini asyik memperbincangkan tentang hasil konsultasi pada Nenek Dokter tentang Tvakvisa. Agak tengah malam nanti, salah satu staf Nenek Dokter akan datang secara diam-diam ke Griya Nayika untuk mengambil semua ramuan itu. Di telepon tadi, Nenek Dokter berkata bahwa paling tidak akan perlu waktu 1 minggu baginya untuk

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 33 =Hampir Tertangkap=

    Masih berdiri di posisi yang sama, Ridhika berusaha berpikir cepat, mencari solusi untuk keluar dari situasi yang tidak nyaman itu. Karena dia masih belum tahu apakah Widuri dan Amayra berada di dalam atau sudah pergi, akan lebih baik jika dia bisa mengalihkan perhatian Adishra agar membiarkannya masuk ke kamar terlebih dahulu."Kau tidak mengunci kamarku! Dasar bodoh! Di dalam sana ada barang-barang berharga yang tidak akan bisa kau ganti!" Teriak Adishra gusar."Aku yakin sudah menguncinya kok tadi," kelit Ridhika, masih tidak yakin dengan apa yang harus dilakukannya."Lalu, kenapa pintunya terbuka seperti ini, hah?! Dasar tidak becus!"Adishra mengulurkan tangannya, hendak mendorong pintu yang sudah setengah terbuka agar dirinya bisa masuk. Pada momen itu, refleks Ridhika bergerak lebih cepat daripada otaknya. Spontan saja dia menahan tangan gadis tersebut dan berdiri di depan pintu. Bermaksud menghalangi pandangan Adishra dari apapun yang ada di dalam."Adishra, tunggu!" Ridhika

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 32 =Berdebar=

    "Omong-omong, ini." Bagastya menyerahkan sebuah cermin kecil berbingkai kayu yang dipahati sulur tanaman merambat pada Ridhika. "Kubuatkan dari sisa membuat fondasi stand."Ridhika mengangkat sebelah alisnya. Dia sempat ragu-ragu untuk mengambil cermin tersebut. Berulang kali dia secara bergantian menatap ke arah wajah Bagastya dan tangan si pria yang terulur, tiba-tiba terpikir mengapa pria itu membuatkannya sesuatu."Ambil saja," ujar Bagastya. "Kau juga harus buatkan sesuatu untukku. Nanti akan ditanya di kelas Pasangan.""Oh, begitu?" Mendengar penjelasan tersebut, Ridhika sontak saja diam-diam merasa malu. Rupanya dia yang berpikir terlalu jauh. Dia tertawa kecil dengan canggung, sambil menyambut cermin itu. Memperhatikan ukirannya dengan ekspresi tertarik."Kenapa cermin?" Tanyanya, basa-basi."Aku lihat, siswi-siswi protagonis suka sekali membetulkan riasan mereka. Jadi, mungkin kau akan perlu." Bagstya dengan santai membalas, seraya kembali menyantap jagung di tangannya yang

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 31 =Bazar di Asrama Biasa=

    "Jangan sampai ada yang rusak! Semua bahan ini langka," ujar Adishra tanpa mengalihkan perhatian dari refleksi dirinya di cermin yang sedang didandani oleh Kirana. "Aku tahu!" Ridhika mengemasi bahan-bahan obat herbal yang disorongkan Dea padanya ke dalam keranjang anyam sambil sesekali mengomel pelan. Untuk bazar hari ini, Adishra sudah menyeretnya dari kamar sejak jam 04.00 pagi. Kadang untuk menyetrika bajunya, kadang untuk memakaikan cat kuku, kadang untuk memesan salad buah dari dapur, apa-apa sajalah keributan yang gadis itu dan dayang-dayangnya buat. "Hoam." Ridhika menutup mulutnya sambil menguap lebar-lebar. Dia tidak sempat tidur. Sebab, setelah berhasil meyakinkan Adishra untuk pergi ke bazar, dia lalu harus berdiskusi dengan Widuri dan Amayra tentang apa yang harus mereka lakukan agar penggeledahan kali ini berhasil. Akhirnya, mereka memutuskan bahwa Widuri yang akan menggeledah, sementara Amayra berjaga-jaga di depan kamar. Sedangkan, dirinya akan terus berada di sek

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 30 =Satu Masalah Selesai, Masalah Lainnya Menunggu=

    Pagi-pagi sekali, sementara Widuri sibuk berdandan dan para penghuni Griya Nayika sedang ribut bolak-balik mempersiapkan diri, Ridhika justru dengan serius sedang memperhatikan Amayra yang tengah menerima telepon dari pengawas.Sudah sekitar 15 menit berlalu. Selama itu, gadis tersebut hanya mengatakan "Iya, Bu. Iya, Bu." Tidak ada kalimat lain. Dia jadi sulit menebak apa isi pembicaraan mereka dan apakah ada hubungannya dengan keluarga Darling yang pergi ketakutan kemarin atau tidak."Baik, Bu. Terima kasih," Widuri menutup telepon, akhirnya terlihat ekspresi lain di wajahnya. Sumringah.Menyaksikan hal ini, Ridhika setidaknya bisa yakin bahwa mereka menerima kabar baik. "Apa? Bagaimana?" Tanyanya tidak sabar.Amayra berlari kecil, duduk di depan meja rias yang berseberangan dengan Widuri, tersenyum lebar sambil menyisiri rambutnya. "Mulai sekarang, aku boleh tinggal di asrama," ujarnya sambil tertawa pelan, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan. "Keluarga Darling tidak akan berkun

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 4 = Griya Nayika =

    "Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 3 = Akademi Natyadharma =

    Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 2 = Keturunan Antagonis Sebagai Protagonis =

    "Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 1 = Undangan Khusus =

    "Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status