Share

Chapter 39 =Konfrontasi=

Author: daydreammm_ms
last update publish date: 2026-08-04 21:51:14

Ridhika menyekasikan ekspresi Klarisa secara perlahan berubah dari congkak, menjadi geram, setelah mendengar perkataannya tersebut. Teman-teman gadis itu pun berhenti tersenyum. Alih-alih, mereka kini saling lirik satu sama lain dengan raut tegang.

Kendati suara-suara dari para penonton pertandingan masih membahana di latar belakang, tempat dimana mereka berkumpul justru sepenuhnya diam. Hal ini membuat Ridhika yakin bahwa dia telah menekan titik sakit bagi Klarisa.

Oleh sebab itu, supaya tidak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 39 =Konfrontasi=

    Ridhika menyekasikan ekspresi Klarisa secara perlahan berubah dari congkak, menjadi geram, setelah mendengar perkataannya tersebut. Teman-teman gadis itu pun berhenti tersenyum. Alih-alih, mereka kini saling lirik satu sama lain dengan raut tegang.Kendati suara-suara dari para penonton pertandingan masih membahana di latar belakang, tempat dimana mereka berkumpul justru sepenuhnya diam. Hal ini membuat Ridhika yakin bahwa dia telah menekan titik sakit bagi Klarisa.Oleh sebab itu, supaya tidak kehilangan momentum, dia segera mengumpulkan lebih banyak kepercayaan diri untuk menyambung kalimatnya tadi."Yukma Nirnayakagnih sendiri yang memasangkan kami. Kau tahu apa artinya itu?" Ridhika maju mendekati Klarisa, berbisik di depan wajah gadis itu. "Artinya kaulah yang tidak cukup pantas untuk menjadi pasangan pria yang kau kagumi itu. Kau bisa bilang aku jelek atau apapun, tapi itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku dipilih, bukan kau. Paham?"Ridhika merasakan sebuah tangan menarik

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 38 =Penggemar Bagastya=

    "Ya Tuhan, tidak bisa ya aku hidup dengan tenang sehari saja?" Pikir Ridhika. Dia yakin wajahnya juga sememelas pikirannya tersebut.Sekarang, tidak heran Bagastya mempertanyakan gaya riasannya tadi. Jangan-jangan pria itu sudah tahu dia akan "diserang" seperti ini! "Dasar bodoh!" Omel Ridhika dalam hati."Bertamu ke sini, tapi tidak mau bicara dengan tuan rumah, ya?" Si gadis asing bicara dengan nada mencemooh, sekali lagi. "Kau tidak berpikir protagonis derajatnya lebih tinggi dari antagonis, kan?""Oh, tidak! Tidak sama sekali, kok," balas Ridhika cepat, sebelum pembicaraannya melebar ke hal lain yang lebih berpotensi menghasilkan masalah. "Aku hanya datang untuk menonton dan ngobrol dengan Bagastya sebentar. Sebenarnya, aku bahkan baru mau pergi sekarang."Sekadar basa-basi, Ridhika sedikit membungkukkan tubuhnya dengan sopan. Padahal, baru saja mau santai, dia malah harus siaga menjadi pelayan Adishra lagi. "Biarlah. Daripada terlibat masalah," batinnya.Akan tetapi, baru saja

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 37 =Tanding=

    Si panitia hanya mengantarkan Ridhika sampai di depan sebuah ruangan yang diberi papan nama akrilik hitam dengan judul "Kandidat", sebelum setengah berlari pergi kembali ke area arena.Ridhika sempat ragu untuk masuk. Apalagi, dia masih belum menemukan tempat duduk Adishra. Dia bisa membayangkan gadis itu pasti sedang menggerutu, mengumpat dirinya karena lambat. Jadi, aslinya dia tidak punya waktu untuk bertemu Bagastya."Mungkin ... nanti saja, deh," pikirnya, lantas berbalik, berniat meninggalkan ambang pintu.Namun, sebelum dia berjalan jauh, pintu ruangan justru tiba-tiba terbuka. Menampakkan Bagastya yang mengenakan kaos oblong abu-abu dan celana selutut hitam. Pertama, mereka saling tatap dalam diam selama beberapa saat. Lalu, ketika Ridhika masih sibuk diam-diam mengamati isi ruangan yang sedikit terlihat dari balik tubuh Bagastya, tahu-tahu pria itu berjalan ke depannya. Mengetuk-ngetuk pipi Ridhika beberapa kali dengan kening berkerut sambil berkata, "Masih saja berdandan se

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 36 =Area Kelas Antagonis=

    Sejak terakhir kali bertemu dengan Bagastya di bazar, dia belum sekali pun memikirkan pria itu lagi. Atau, setidaknya begitulah yang coba dia yakini. Nyatanya, setiap malam dia sulit tidur karena memikirkan harus memberi hadiah apa pada pria itu.Jangan salah paham! Ridhika hanya tidak ingin sembarang. Kelas Pasangan akan dihadiri oleh semua siswa dan siswi Akademi Natyadharma dari setiap angkatan yang masih aktif. Dia tidak ingin menjadi bahan ejekan jika memilih hadiah yang biasa-biasa saja. Cuma itu, kok!"Hari ini ada pertandingan tinju. Pasanganmu itu adalah salah satu pesertanya. Kupikir, kau bisa menyemangatinya sekalian aku memamerkan kecantikanku pada semua orang.""Hah?" Ridhika mengernyit. "Dari mana sih kau tau semua ini?"Adishra beranjak tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Hanya Dea yang memberi Ridhika jawaban dengan membentuk isyarat mulut berbicara menggunakan tangannya. Gerakan yang Ridhika artikan sebagai tanda bahwa Adishra mengetahui semuanya dari gosip di sekitar

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 35 =Kebaikan Hati=

    "Ada apa? Apa kalian sudah meminta izin dari Guru masing-masing untuk keluar pada jam pelajaran seperti ini?" Tanya Ibu Binar dengan tangan terlipat di atas meja. Raut wajahnya bahkan kini lebih serius daripada tadi."Kami sudah minta izin, Bu," jawab salah satu siswi yang adalah Amayra.Ridhika menatap Amayra dan 2 orang siswa serta siswi yang dia kenali sebagai penghuni asrama biasa di belakang gadis itu. Dia tidak tahu apa yang akan mereka jelaskan tentang dirinya kepada Ibu Binar, tetapi jantungnya berdebar penuh antisipasi.Melalui sudut matanya, dia melirik reaksi Ibu Binar. Sepertinya sang Guru tidak keberatan dengan kedatangan siswa dan siswi tersebut. Jadi, bisakah dia berharap masih ada kesempatan baginya untuk mempertahankan sisa poinnya?"Baik. Kalau begitu, cepat bicara," putus Ibu Binar, mengisyaratkan pada para siswa dan siswi yang berdiri di ambang pintu agar segera masuk. "Kalian harus cepat kembali ke kelas masing-masing."Amayra memimpin siswa dan siswi lainnya untu

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 34 =Menunggu=

    "Di kamar itu mungkin ada seribu ramuan! Aku tidak bergurau! Memang sebanyak itu. Tanya saja Amayra!" Keluh Widuri berapi-api. Sementara Amayra turut menjelaskan bagaimana mereka membongkar seluruh kamar Adishra untuk mencari ramuan yang tampak mencurigakan, Ridhika justru sibuk memperhatikan satu-persatu botol ramuan yang dibawa oleh kedua gadis tersebut. Ada sekitar 12 botol dan semuanya berwarna sama, kuning pucat. "Untunglah aku sempat bertanya kepada Nenek Dokter tentang ciri-ciri Tvakvisa. Kami membawa semua ramuan yang mirip dengan deskripsi beliau." Ridhika masih memainkan beberapa botol ramuan di tangannya. Lalu, dia menengadah, menatap Widuri dan Amayra yang kini asyik memperbincangkan tentang hasil konsultasi pada Nenek Dokter tentang Tvakvisa. Agak tengah malam nanti, salah satu staf Nenek Dokter akan datang secara diam-diam ke Griya Nayika untuk mengambil semua ramuan itu. Di telepon tadi, Nenek Dokter berkata bahwa paling tidak akan perlu waktu 1 minggu baginya untuk

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 4 = Griya Nayika =

    "Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 3 = Akademi Natyadharma =

    Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 2 = Keturunan Antagonis Sebagai Protagonis =

    "Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 1 = Undangan Khusus =

    "Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status