تسجيل الدخول"Ingat itu baik-baik di lain waktu ketika Anda mencoba terlibat dalam masalah lagi, Ridhika Maya."Kalimat itu terus berputar di dalam kepala Ridhika selama satu minggu terakhir, persis seperti kaset rusak yang tidak tahu kapan berhenti. Saking mendistraksinya, kadang sampai membuatnya kehilangan fokus ketika sedang belajar di kelas. Untungnya, belum pernah sampai ketahuan oleh Guru."Ridhika, kamu yakin tidak mau kuantar saja?" Tanya Widuri yang sudah duduk di dalam mobil jemputannya, bersiap pulang ke rumah."Tidak, Widuri. Terima kasih, ya. Kamu duluan saja." Sesudah berkata demikian pada gadis itu, Ridhika menoleh ke arah Amayra yang juga ada di sana. Bedanya, tentu hanya untuk mengantar mereka, tidak untuk pulang ke Keluarga Darling. "Kamu juga kembali saja ke asrama, Amayra. Sudah mulai terik.""Tapi, kamu betul bisa menunggu bus sendiri?" Tanyanya dengan ekspresi ragu-ragu.Jika ada citra tertentu bagi Amayra tentang Ridhika, itu adalah bahwa dia berasal dari keluarga protagoni
Ketika masih dalam perjalanan menuju ruang Adhyaksa, padahal matahari sudah cukup tinggi. Ridhika tidak sempat melihat jam, tetapi dia yakin pastilah sudah sekitar jam 6 pagi hari itu. Namun, pada saat mereka tiba di ruangan Sang Kepala Sekolah Akademi Natyadharma, pemandangan di luar jendela justru kembali menjadi segelap malam."Ruangan ini berada di dimensi yang berbeda dengan sisa ruangan lainnya di Akademi," jelas Mel karena barangkali melihat tatapan bingung Ridhika. Jawaban yang memang gadis itu sudah duga. Di dalam ruangan tersebut, Ridhika dan Adishra berdiri bersebelahan dengan jarak 5 jengkal di antara mereka. Masing-masing tidak bicara maupun melirik pada satu sama lain. Cukup untuk membuktikan bahwa Adishra sepertinya sudah tahu alasan mengapa mereka ada di sana.Mel sudah keluar, sementara Ibu Berlian berdiri di belakang kursi Adhyaksa yang sedang menatap mereka berdua secara bergantian dengan ekspresi serius. Tangan pria tua itu tertaut di depan dada dengan disangga ol
Ridhika kembali menelan ludahnya gugup, entah sudah untuk keberapa kalinya dalam 15 menit itu. Tangannya yang terlipat di belakang tubuh bergerak mengelupasi kulit di sekitar kuku jarinya yang memang sudah terkelupas sejak awal. Jika tidak sedang menjadi pusat perhatian dari dua orang yang tengah duduk di depannya, dia mungkin sudah sekalian mengigiti kuku hingga habis.Laporan hasil uji coba sudah beberapa kali dibaca, hamster dan ramuan pun sudah cukup lama diamati, tetapi Ibu Berlian tidak kunjung mengeluarkan sepatah kata. Justru, wanita itu lebih sering melirik dirinya dengan ekspresi datar dan menilai. Hal yang membuat kecemasan Ridhika semakin meningkat."Akademi Natyadharma menugaskan seorang Dokter khusus untuk merawat siswi-siswi di Griya Nayika. Membawa Dokter dari luar untuk menangani apa yang tergolong sebagai peristiwa pribadi di sini sangat dilarang," ujar Ibu Berlian seraya membetulkan kacamatanya dan memasukkan laporan hasil uji coba kembali ke dalam kotak.Namun, bar
"Kamu tidak bisa langsung melapor kepada Adhyaksa. Ada jenjang kekuasaan yang harus diikuti," jelas Widuri dengan serius.Ridhika sudah memutuskan bahwa dia akan melaporkan apa yang terjadi padanya hari itu juga. Tidak peduli sudah gelap gulita di luar sana. Semua harus sudah selesai sebelum matahari terbit besok. Dia tidak ingin lagi berurusan dengan Adishra."Lalu, bagaimana? Jelaskan aku harus apa," balasnya datar.Dia merasakan tangan Amayra menepuk-nepuk pundaknya pelan. Bahkan gadis itu saja tadi terkejut melihat keadaannya yang sempat linglung. Jika setelah mengalami serentetan peristiwa mengerikan itu dia masih bisa menunggu untuk melakukan sesuatu, maka dia pasti sudah tidak waras."Kita harus membuat janji temu dengan Ibu Berlian melalui Mel. Menunggu hingga Ibu Berlian punya waktu untuk mendengarkan ceritamu dan memutuskan bahwa kasus ini pantas dibawa ke depan Adhyaksa, lalu baru kita bisa melanjutkan."Mata Ridhika membulat. Mendengar penjelasan Widuri, beberapa kali dia
"Kupikir, kamu bilang laporannya datang nanti malam!" Keluh Ridhika.Dengan langkah tergesa dia berjalan menjauh dari area aula yang tentu saja masih dipadati oleh para siswa dan siswi. Beberapa kali dia menoleh ke belakang, memastikan bahwa tidak ada yang memperhatikan."Kamu pikir, aku tidak kaget?" Balas Widuri dengan ekspresi sebal. "Mereka meneleponku di tengah kegiatan belajar! Untung, Guruku tidak galak."Ridhika berdecak. Kecepatan langkahnya bertambah seiring dengan semakin dekatnya dia dan Widuri di tempat staf Nenek Dokter sedang menunggu mereka. Pagar belakang Akademi yang sudah lama tidak digunakan. Naas bagi kedua gadis tersebut, di tengah jalan, mereka berpapasan dengan seorang Pengawas. Tanpa memiliki kesempatan untuk menghindar, Ridhika terpaksa berpikir cepat untuk mencari-cari alasan."Kenapa kalian berdua di sini?" Tanya si Pengawas, menatap Ridhika dan Widuri dengan ekspresi garang.Widuri menyikut lengan Ridhika, memberi isyarat pada gadis itu untuk memberikan j
Bagastya mengangguk ke arah Ridhika yang baru meletakkan jarinya di atas pengait kotak kayu. Gerakan yang dianggap gadis itu sebagai sebuah persetujuan agar dia segera membuka kotaknya dan memang itulah yang Ridhika lakukan.Kotak itu terbuka dengan bunyi klik, menampakkan alas berwarna hitam dan seuntai kalung perak sederhana di dalamnya. Dengan napas tertahan, Ridhika menarik kalung tersebut pelan-pelan, mengelusnya di atas telapak tangannya dengan sentuhan yang teramat ringan hingga nyaris tidak mencapai kalung itu sendiri."Bagaimana ... kau mendapatkan ini?" Bisiknya, entah bisa didengar oleh Bagastya atau tidak.Matanya hanya tertuju pada bandul hijau berbentuk semanggi berdaun empat yang tergantung pada si kalung. Potongannya tidak terlalu halus, tetapi permukaannya berkilat-kilat indah ketika tertimpa cahaya lampu kristal yang tergantung di langit-langit aula."Aku buat sendiri," jelas Bagastya tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah Ridhika yang tampak sedang sangat takjub
"Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku
Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela ma
"Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau
Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika







