LOGIN(Warning! Terdapat Adegan Kekerasan!)Pandangan Ridhika sempat buram selama beberapa saat ketika dia baru sadarkan diri. Kendati begitu, ada banyak hal yang langsung disadarinya saat itu juga. Seperti kedua tangan dan kakinya yang nyeri karena diikat terlalu kuat, dan mulutnya yang terasa asam karena disumpal dengan kain kotor. Demikianlah dia mengetahui bahwa, kali ini, Sikha Airlangga tidak hanya sedang bermain air dengannya, melainkan berniat mendorongnya sekaligus ke dalam lautan.Tidak langsung terjadi apa-apa padanya. Ridhika menghabiskan siang dan malam di sebuah tempat yang tampak seperti pabrik tidak terpakai selama beberapa hari terlebih dahulu. Mungkin dua hari? Dia tidak bisa menghitung dengan jelas, terutama karena disana dia tidak diberi makan atau minum, dan bahkan tidak bisa tidur dengan benar karena posisinya yang tidak memungkinkan.Yang jelas bagi Ridhika adalah tempat itu selalu menakutkan setiap waktu. Dinding-dindingnya dipenuhi lumur, atapnya disarangi oleh pulu
Sore hari ketika Ridhika dan Bagastya sedang dalam perjalanan kembali ke akademi adalah sore hari yang tenang ... dan ganjil, menurut gadis itu. Seperti awan kelabu yang perlahan datang sebagai tanda akan turunnya hujan, begitulah perasaan Ridhika terhadap sore itu. Namun, dia berusaha menekan kerisauannya dengan memperhatikan pemandangan yang berlalu cepat di sekitar mereka.Menjelang jam 5, langit yang tadinya cerah tiba-tiba benar-benar berubah mendung. Tidak perlu waktu lama bagi angkasa di atas mereka untuk memuntahkan tetesan air yang cukup deras untuk membuat keduanya terpaksa berteduh di sebuah pondok yang terletak di pinggir jalan. Ini dia, pikir Ridhika. Pasti inilah sebabnya dia merasa tidak enak hati. Rupanya peristiwa tidak terduga sungguh terjadi."Ck! Aku lupa memasukkan kembali jas hujan kita ke dalam jok!" Keluh Bagastya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya."Tidak masalah. Kita bisa tunggu sampai hujannya reda saja."Ridhika mengancingkan cardigan rajut yang di
Bukan sekali dua kali saja Ridhika diam-diam menyesali keputusannya untuk bersedia diajak mendaki oleh Bagastya pagi itu. Bukannya apa! Dia tidak menyangka bahwa mereka akan melakukannya di pagi buta seperti sekarang! Dipadukan dengan jalan pendakiannya yang sangat berbatu dan hawa pegunungan yang dingin sekali, dia merasa seperti sudah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kolam es.Bagastya yang merasakan tangan Ridhika dalam genggamannya terus gemetar juga berupaya untuk berjalan lebih cepat agar bisa segera tiba di puncak. Namun, apa daya, pasangannya itu sendiri terlalu tidak berenergi untuk bisa mengimbangi laju langkahnya. Pada titik ini, bahkan dia pun sudah mulai menyesali keputusannya menjadikan pendakian sebagai acara kencan terakhir mereka sebelum kembali ke akademi nanti sore."Sudah, tinggalkan saja aku disini," ujar Ridhika sambil menyentakkan tangan Bagastya hingga genggaman mereka lepas. "Aku tidak kuat lagi. Teleponkan Tim SAR untuk membawaku turun."Melihat sang pa
Malam berikutnya "berkencan" bersama Bagastya sepenuhnya menguatkan keyakinan Ridhika bahwa desa pria itu memang mendapatkan pendanaan yang baik dari pemerintahnya. Mengapa demikian? Sebab, entah karena waktu kedatangan mereka saja yang tepat atau karena warga di desa tersebut memang senang sering-sering menghibur diri sendiri, setiap hari sepertinya selalu ada hiburan baru. Kemarin karnaval, malam ini pemutaran film di lapangan, besok akan ada apa lagi?Suasana malam itu pun cukup mendukung bagi Ridhika untuk mengkategorikannya sebagai acara kencan yang sukses. Bagastya sudah membelikannya cukup banyak cemilan serta minuman, dan mereka duduk di tempat yang tidak begitu sesak tetapi masih memungkinkan untuk melihat layar dengan nyaman. Jika ada hal yang bisa merusak kombinasi sempurna ini, maka itu hanyalah alur filmnya yang sangat bodoh!"Kenapa sih dia masih mau kembali pada pria itu?! Dia sudah gila, ya?!" Keluh Ridhika frustasi ketima mereka sudah sampai pada bagian dimana si toko
Sewaktu Ridhika masih tinggal di desa, ada sepasang anak yang mengklaim bahwa mereka berpacaran. Makanya, kedua orang itu sering terlihat pergi bersama, bertukar hadiah atau memanggil satu sama lain dengan nama yang ... agak aneh untuk didengar. Akan tetapi, sungguh bukan itu masalahnya!Masalah sebenarnya adalah suatu hari si gadis pernah melabrak Ridhika ke rumah dan menuduhnya menggoda sang kekasih. Ibu Ambar sampai harus berkali-kali meminta maaf agar si bodoh itu mau pergi, padahal jelas-jelas Ridhika tidak tahu apa-apa! Sejak saat itu, meski dia tidak terlalu paham konsep berpacaran, Ridhika selalu menganggap bahwa orang-orang yang melakukannya pastilah kurang kerjaan.Namun, dia tidak menyangka akan ada saatnya dimana dia menjadi bagian dari orang kurang kerjaan itu dan ternyata ... tidak begitu membencinya."Kau mau hadiah yang mana" Tanya Bagastya, membuat Ridhika segera melayangkan pandangan ke arah semua seleksi hadiah yang bisa mereka dapatkan apabila pria itu berhasil men
Pemandangan pertama yang dilihat Ridhika ketika turun dari sepeda motor Bagastya adalah seorang wanita paruh baya berkebaya hijau yang sedang memindahkan beberapa tangkai bunga mawar putih dari pot ke tanah. Lalu, pada saat wanita tersebut menyadari kedatangan mereka, dia segera meninggalkan kesibukannya, membersihkan tangan menggunakan kain jarik yang dikenakannya untuk menyambut dengan senyuman.Ridhika tahu dia seharusnya berjalan ke arah wanita itu. Akan tetapi, rasa gugup yang tiba-tiba menyerang membuatnya justru membatu di depan pekarangan, selagi berusaha membalas senyuman si wanita dengan menarik paksa kedua ujung bibirnya. Tindakan yang kemudian dia sadari pasti membuatnya tampak bodoh.Bagastya, di sisi lain, sama sekali tidak membantu. Bukannya menenangkan atau setidaknya mencairkan suasana agar Ridhika bisa bersikap lebih natural, pria itu malah tertawa kecil seraya menyenggol bahunya, lantas berlalu begitu saja."Hm, Bagastya Dewa," panggil wanita tersebut dengan nada me
"Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku
Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela ma
"Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau
Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika







