/ Zaman Kuno / Aku Dan Tuan Duke / 7. Jari yang Hilang

공유

7. Jari yang Hilang

작가: cyllachan
last update 게시일: 2024-04-27 21:00:01

"Tuan ingin makan malam dengan Lady." Begitu kata Yulia.

Kini aku sudah berada di meja makan dengan beberapa pelayan. Ini ruang makan yang sangat besar! Aku tidak yakin pernah berada di ruang makan seluas ini. Mejanya panjang dengan banyak sekali kursi. Mungkin dua puluh? Ada lampu gantung raksasa di sana.

Kami semua menunggu Lord Korzakov, majikan nomor satu di kastil megah ini.

Jantungku berdebar. Waktu terasa begitu lama kala aku menanti apa yang akan terjadi pada makan malam kami. Tak berapa lama kemudian, pintu ruang makan terbuka. Pria yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga.

Ketika Lord Korzakov melangkah, semua membungkuk. Sepatunya nyaris tak terdengar hentakan apapun. Aku tidak tahu apa aku juga harus melakukan hal yang sama. Yang jelas tulang belakangku menegak tegang.

Aku melirik dengan takut ke arah pintu.

Astaga .... Andai saja dia tidak memasang wajah bengis nan dingin, aku pasti sudah tergila-gila padanya. Pria itu melangkah hening dengan cepat. Aku tak bisa mendengar langkah kakinya. Tubuhnya tegap dan gagah dibalut jas warna gading dengan kemeja hitam di dalamnya. Rambut pirangnya telah tertata rapi dan bersinar seperti sebuah mahkota emas. Ia terlihat begitu berkilauan.

Apa setiap makan malam dia akan berpenampilan begitu?

Lord Korzakov duduk di dekatku. Saat ia tiba, mata biru jernihnya menyelidik padaku. Aku bisa mencium aroma parfum wangi, mungkin aroma sandal wood? Pepermint? Entahlah.

Yang jelas, bau tubuhnya berhasil membuatku berdebar dan terpikat.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan suara khas yang begitu dalam.

"A-Aku?"

"Kau seperti kesulitan bernafas," terkanya.

Dengan gugup, aku menggeleng. "Oh ... aku tak apa," dustaku. Buru-buru aku menenangkan jantung dan seluruh tubuh kecilku di atas kursi.

Sedetik kemudian, pelayan berbondong membawakan makanan untuk kami. Daging panggang, sup, anggur merah, roti panggang yang baru matang, dan buah-buahan.

Ya ampun. Bagaimana menghabiskan semua ini? Aku memandang hamparan hidangan lezat dengan berbinar.

"Hm ...."

Aku mendengar suara kecil darinya, seperti tengah mengejekku. Saat aku menoleh, sebuah senyum miring telah terbangun dari bibirnya. Saat tatapan tajamnya berpadu dengan senyuman tipis itu, aku sudah tidak karuan. Rasanya ada genderang kecil dalam dadaku. Wajah pria itu begitu memukau.

Tapi ... itu membuatku ciut hingga tubuhku menyusut. Aku tahu ia mengolok.

Aku meremas rokku dan tertunduk. Apa aku terlihat begitu kampungan? Cuma makanan begini saja aku bereaksi seperti itu.

"Lady, silahkan nikmati makan malamnya," suara ceria dari Elena menenangkanku. Aku melihat wajah berbintiknya sudah ada di sampingku dengan segenap penghiburan.

Kemudian gadis muda itu menuangkan sebuah teko teh pada cangkirku. Tapi ....

"Elena!" pekikku hingga memundurkan tubuh. Aku bisa mendengar kursi makanku berderit karena bergerak tiba-tiba.

Seketika Elena menjadi takut pada kekagetanku. Tangannya mengambang di sana, berhenti pada tuangan teh dari teko.

Tangan itu. Ya ... tangan kanan mungil Elena yang tengah menuang teh.

Jarinya cuma empat!

Kelingkingnya hilang, dan jari manisnya cuma tersisa satu buku jari saja. Aku memandang tangan dan wajahnya bergantian. Elena mulai gemetar memegangi teko. Ketakutan.

"T-Tanganmu ...," lirihku. "Ap ... Apa yang terjadi?"

Di saat itu, aku baru menyadari kekurang-ajaranku sebagai bangsawan. Apa yang sudah kulakukan? Apa mereka akan berpikir bahwa aku sedang mencela orang cacat?

"Apa kau terganggu dengannya?" tanya Lord Korzakov dengan nada dingin.

Tubuhku segera membetulkan posisinya. Kini aku yang sudah tak bisa menatap siapapun di ruangan itu. Kedua tanganku meremas rok kencang-kencang. Udara di sekitarku berubah pekat dan membuat sulit bernapas!

"Kalau kau tidak suka dengan anak itu, aku akan menyingkirkannya."

Mendengar ucapannya yang begitu mengancam, aku mendongak.

Menyingkirkan? Apa yang akan dia lakukan untuk menyingkirkan Elena?

"Sa-Saya minta maaf jika sudah menyinggung Lady," suara Elena yang merintih dan terisak nyaris tak terdengar. Anak itu telah menggantung wajah berbintiknya dalam-dalam.

"Justru ... a-aku yang minta maaf. Aku-."

"Apa kau tidak akan menjawab pertanyaan Lady Levitski padamu?" nada Lord Korzakov setengah mengancam. "Ayo katakan padanya. Apa yang telah terjadi padamu." Matanya mendelik dengan kejam.

Aku bisa melihat Elena semakin gemetar. Sementara ... pelayan-pelayan yang lain terlihat menghindari pandangan mereka pada kejadian ini. Mata mereka begitu dingin. Bahkan ... Yulia juga. Seperti mereka semua membiarkan Elena, gadis muda itu dicabik-cabik oleh Lord Korzakov.

Mata biru pria itu semakin tajam memandangnya. Penuh ancaman sungguhan.

"S-Saya ... ini ... ini kecelakaan di dapur, Lady," ucapnya takut-takut.

"Bawa dia keluar! Hukum dia!" suara pria itu memenuhi ruangan.

Dia berhasil membuat tulang-tulangku bergetar merinding. Aku menoleh dengan tak percaya pada pria itu.

"Aku sudah bilang agar kalian melayani calon istriku dengan baik!" Kedua bola matanya menggulir ke semua pelayan di sana.

Igor buru-buru melangkah dan membawa Elena keluar dari ruang makan. Gadis itu akhirnya menangis.

"My lord!" Aku telah bangkit dari kursi. "Ini salah saya. Saya mohon jangan sakiti Elena!" pintaku memelas. "Saya sudah bereaksi berlebihan."

Igor dan Elena menghentikan langkah mereka. Lord Korzakov menyurut. Lalu aku bisa melihatnya mendengkus.

"Saya ... ingin agar Elena tetap melayani saya," kataku.

Lord Korzakov melambaikan tangannya singkat. Memberi instruksi pada Igor untuk melepasnya. Elena terlihat lebih tenang. Aku bisa melihat sebuah kelegaan dari wajah berbintiknya.

Aku pun menghela dan kembali duduk.

Suasana makan malam pertamaku yang mencekam di kediaman Korzakov. Apa ini akan menjadi keseharianku nantinya?

Semua hidangan ini begitu lezat. Tapi aku kesulitan untuk mengunyah dan menelannya. Hingga aku bersyukur ini semua sudah berakhir.

Tanpa basa-basi lagi, Lord Korzakov bangkit dari kursinya. Ia pergi meninggalkan ruang makan tanpa perkataan yang lain lagi.

'Tidak! Tidak boleh seperti ini.'

Dengan nyali setinggi bintang di langit, kakiku melangkah untuk mengejarnya.

"M-My lord ...," panggilku.

Pria itu memutar tubuh besarnya dengan bahu bidang. Dari atas sini, mungkin dia bisa melihat tubuh kecilku menyusut. Tapi ... aku tidak boleh berhenti!

"Ini!"

Kedua tanganku menyodorkan kotak kecil berlapis beludru merah. Kusimpan seharian di kantong gaunku.

Bahkan wajah garangnya itu penasaran.

"Apa ini?"

"Ini ... hadiah pernikahan dari saya," ucapku takut-takut.

Mata biru pria itu memandangi lekat-lekat. Perlahan, tangannya meraih kotak mungil itu. Kupikir dia akan membuka dan melihat isinya. Tapi ia hanya memasukkannya ke dalam saku celana, kemudian pergi meninggalkanku tanpa ada ucapan apapun. Terimakasih saja tidak!

Ah ... apa dia pikir hadiahku begitu tidak berharga sampai-sampai dia tidak mempedulikan isinya?

Aku cuma bisa menghela nafas.

'Padahal aku membeli hadiah itu hingga tidak punya uang lagi.'

xxx

"Karena ini adalah hadiah pernikahan, maka His Grace ingin Lady Levitski untuk mengambil dan memesan apapun," kata Igor si kepala pelayan. Kemudian pria tua itu meninggalkan kamarku. Supaya aku bisa puas memilih dan mencoba gaun-gaun ini katanya.

Sementara itu, Madam Petrov sudah sangat sumringah untuk menunjukkan koleksinya.

"Aah! Lady Levitski! Saya tidak menyangka akhirnya bisa bertemu dengan Anda!" sambut wanita itu dengan menggebu-gebu. Tapi ... aku bisa melihat senyumnya menghilang singkat saat melihatku memakai gaun yang sederhana dan agak belel.

Pasti dia tidak percaya kalau aku ini calon istri seorang Duke kaya.

"Saya juga senang bertemu dengan Anda, Madam Petrov," ucapku sopan.

Seperti perkataan Igor, keesokan harinya Madam Dasha Petrov mengunjungi istana Korzakov. Yulia dan Elena mendampingiku. Gadis itu terlihat lebih baik dari kemarin. Sementara, Madam Petrov yang agak gemuk dengan topi lebar ditambah hiasan bulu merak ditemani para asistennya. Gaun Madam Petrov warna-warni tumpang tindih. Sudah mirip kue bolu yang kebanyakan hiasan gula.

Mereka semua membawa gaun-gaun mewah yang cantik.

Mereka mendorong sebuah gawang dengan gaun-gaun menggantung. Itu terlihat berat, tapi wanita-wanita ini seperti sudah sangat ahli. Tak butuh waktu lama bagi gaun-gaun itu masuk ke kamarku yang luas ini.

Mataku terpana menatap puluhan gaun yang telah disiapkan untukku.

"Lady Levitski, ini adalah koleksi yang saya bawa hanya untuk Anda. Gaun-gaun ini punya kualitas nomor satu di seluruh kekaisaran!" katanya menyombong. "Kalau lady ingin rancangan gaun yang lain, saya sudah menyiapkan beberapa di album ini. Kami juga membawa beberapa sampel bahan, siapa tahu Anda ingin rancangan dengan bahan tertentu."

Aku mengangguk saja. Kemudian ia mempersilahkanku melihat-lihat.

Aku tidak bohong. Ini semua terlihat sangat mahal. Lalu ... aku menunjuk pada salah satunya, yang sepertinya aku suka.

"Kalau yang ini ...?" Jariku menunjuk ke gaun biru dengan renda putih dan aksen emas. Terlihat sangat mahal dan mewah

"Ah! Selera Anda sangat bagus, my lady. Apa Anda mau mencobanya? Sepertinya akan cocok dengan rambut hitam Anda."

"Ta-Tapi ... ini sepertinya mahal ya?" gumamku.

Apa tidak apa-apa?

Senyum Madam Petrov agak surut. Kemudian Yulia menyahut dengan kalem.

"Lady, tidak perlu memikirkan itu. Tuan tidak suka diragukan kalau cuma soal uang. Pilihlah yang lady suka."

Aku kembali menoleh pada gaun yang indah dan luar biasa ini.

"Aku mau coba yang ini," kataku memberanikan diri.

Kemudian mereka semua menyiapkan gaun itu. Elena dan Yulia membantuku berganti pakaian. Saat tubuhku selesai dengan gaun biru mewah itu, aku hanya bisa terpana menatap cermin.

'Aku ... seperti seorang putri," batinku. Jadi begini ya rasanya jatuh cinta pada diri sendiri.

"Wah! Cocok sekali!" seru Madam Petrov.

Aku memutar-mutar tubuhku di depan cermin supaya bisa melihat bagian belakangnya saat kupakai. Lalu semua orang sibuk menata calon baju berikutnya, aksesoris, dan sepatu-sepatu yang bisa kucoba.

"Anda wanita yang sangat menawan, my lady," puji Madam Petrov. "Mengapa Anda harus bersama Tuan Duke?" tanyanya lirih.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Aku Dan Tuan Duke   155. Epilog

    Akan ada kunjungan dari Prins Mikhail Durnovko dan Prinsessa Maria Durnovko. Kakakku bilang, mereka berdua sangat menyenangkan. Si kembar jenius. Aku memandangi diriku di depan cermin. Rambut hitam yang tersanggul rapi, mata hijau mirip punya ibu. Orang bilang aku gadis yang cantik dari kecil. Menurutku, Ibu lebih cantik. Elena si pelayan begitu sibuk menata bagian bawah gaunku. "Elena, sudah belum?" keluhku. Bibirku sudah merengut. "Sebentar lagi, Your Highness. Nah! Sudah selesai." Elena yang wajahnya berbintik dan berambut merah ikal sudah bangkit dari bawah rokku. Oh, apakah kalian bertanya siapa aku? Namaku Marisa Korzakov. Umurku enam tahun. Dan hari ini kami kedatangan tamu dari luar negeri. Ayah bilang mereka adalah sepupu kami. Kakak juga bilang mereka sangat asyik diajak main. Aku tidak sabar. Aku langsung meloncat dari panggung kayu kecil. Lalu berlari keluar dari kamar. Tak kuhiraukan teriakan Elena yang cemas dan melarangku untuk berlari-lari di dalam kasti

  • Aku Dan Tuan Duke   154. Tsar dan Tsarina

    Esok pagi telah tiba. Pasukan Alexey ternyata membuat kemah di sekitar pondok Madam Olga. Begitu mendadak. Yang paling terlihat kesal adalah Vadim. Sudah lama aku tak melihatnya, wajah yang kecut itu malah membuatku tertawa. Elena dan Sergei membantu mengepak semua barang-barang. Aku dan Alexey, juga Leon. Kami sudah siap untuk berangkat ke pelabuhan. Pulang ke Balazmir. Namun seseorang merasa terganjal di sini. Yuri. Kami semua sudah ada di depan pondok Madam Olga. Cuma Yuri yang terlihat tak bersemangat untuk pulang. “Yuri,” panggil Alexey. “Your Grace,” ia membungkuk hormat. “Kau sudah mengemas semua barangmu?” Ia mengangkat sebuah tas kumal yang isinya beberapa helai baju. Tas yang kulihat sewaktu kami bertemu dengannya di kapal feri pertama kali. “Kalau begitu ayo.” Namun kaki Yuri tak kunjung beranjak. Ia belum melangkah dari pagar depan rumah Madam Olga. Sedangkan wanita itu pun memandangi kami dengan sebuah rajutan menutupi bahunya. Pagi ini dingin. Ia ingin mengantar

  • Aku Dan Tuan Duke   153. Leon Korzakov

    "Nyonya! Dorong! Dorong!""Ngggghhhh!! Aaaakkkhh! Nghhh!"Elena terus berkomando. Sedangkan aku betul-betul susah payah untuk mengambil napas. Keringat bercucuran di sekujur tubuh. Kamar tidurku berubah menjadi kamar bersalin. Aku sudah merebahkan diriku di ranjang. Kedua kakiku mengangkang. Madam Olga dan Elena begitu berusaha keras membantuku. Rasa nyeri begitu luar biasa di bawah sana. "Apa seember ini cukup?" Sergei memotong teriakanku dengan muka bodohnya di bingkai pintu. Kami bertiga menoleh padanya. Kompak mendelik. Dia bikin aku kesal. "Taruh saja di situ! Sana pergi!" hardik Elena galak. "Ayo Nyonya! Dorong lagi!""Nghhhhh! Akkkkhhh!"Tiga puluh detik kemudian setelah aku mengejan, suara teriakan itu terdengar. Ia melengking memenuhi ruangan ini. Aku bisa mendengarnya. Rasa sakit ini, seluruh penantian ini ... terbayarkan. Ujung ekor mataku sudah dialiri air mata penuh haru."Nyonya! Bayinya laki-laki!" Elena

  • Aku Dan Tuan Duke   152. Puding Coklat

    Aku mengamati benda itu, lama sekali. Gergaji kecil yang tak akan punya harapan untuk meloloskan siapapun dari jeruji besi tebal ini. Sofia yang tak sabaran kembali menegurku."Ada apa? Cepat potong besinya! Apa yang kau-.""Sofia, bolehkah aku bertanya sesuatu?""Apa?""Mengapa kau dulu menyiksaku? Mengapa kau dulu menyiksa ibuku?"Kami berdua bertatapan. Seakan gambaran masa lalu tengah bermunculan di antara kami. Kenangan-kenangan manis bersama. Aku masih tidak memahami mengapa aku dan dia berubah menjadi tragedi."Apa kau memang tidak pernah mencintaiku, Sofia?"Ia memegangi jeruji itu dan memandangiku nanar. Mungkin segala ingatan masa lalu berkelebat di kepalanya. Ia menggeleng."Aku mencintaimu, Alexey .... Aku pernah mencintaimu. Saat di perpustakaan itu, aku mencintaimu. Tapi ... sebelum kita menikah, aku mengetahui sesuatu yang lain.""Apa itu?""Apa kau tahu  siapa yang membunuh ayah

  • Aku Dan Tuan Duke   151. Gergaji

    Aku tak tahu apa yang hendak Lenin berikan kepadaku. Namun aku diminta untuk menunggu. Aku bilang padanya, lusa atau tiga hari lagi aku akan langsung pulang ke Balazmir untuk mengatur segalanya. Jadi apapun itu, dia bisa mengirimkan kepadaku. Namun dia meyakinkanku bahwa aku akan mendapatkan benda itu sebelum pergi meninggalkan markas ini.Malam-malam saat aku baru saja terlelap, seseorang mengetuk pintu kamarku."My lord, Your Grace! Buka pintunya," seseorang mendesis dari balik pintu.Aku terpaksa bangun. Segera kupakai jubah tidur untuk membalut piyamaku. Kubuka pintu itu, kulihat Vadim berdiri di depan. "Ada apa?""Saya rasa ... mereka melakukan sesuatu.""Apa maksudmu?"Belum sempat Vadim menjawab, samar-samar kami dengar suara teriakan dari kejauhan. Aku dan Vadim saling memandang. "Ayo. Sebaiknya kita cari tahu."Kami menyusuri lorong-lorong wastu yang masih gelap. Mungkin ini tengah malam.

  • Aku Dan Tuan Duke   150. Lenin

    Sehat, bugar, bahkan terlihat lebih baik dari sebelumnya.Aku memandang dingin Sofia Romanov. Entah mimpi buruk apa yang menyertaiku akhir-akhir ini. Sudah tiga hari aku berada di tempat ini, di markas Yekatrinov bersama Lenin, anak buahnya, dan Sofia Romanov.Berbeda dari bayanganku, kukira dia akan bernasib sama dengan Tsar Nikolai dan keluarganya. Jadi tahanan rumah berbulan-bulan, makan makanan yang menyedihkan dan cuma pakai garam. Tidak. Sofia Romanov begitu hidup. Bahkan sepertinya lebih bahagia dari saat ia masih di istana Musim Dingin Santo Peterkov. Di sini, dia seperti burung yang dibiarkan begitu bebas. Bebas pergi kemana pun yang ia mau. Bebas melakukan segala hal yang ia inginkan. Bahkan ia juga dikawal oleh pengawal-pengawal amatiran milik Lenin. Kudengar juga segala yang ia inginkan dikabulkan oleh Lenin. Minta gaun-gaun cantik, perhiasan dan lainnya. Segalanya dituruti. Entah pria botak itu menjarah, merampok rumah bangsawan mana hingga i

  • Aku Dan Tuan Duke   115. Nyonya Rumah

    Rasa cinta berubah menjadi rasa benci.Masa lalu yang melukaiku seinci demi seinci telah melahirkan sebuah kebencian di dalam diri.Dua t

    last update최신 업데이트 : 2026-03-31
  • Aku Dan Tuan Duke   116. Belati

    Stepan harus ke luar negeri bersama dengan Vera. Ada urusan diplomatik katanya. Sedangkan Vera menitipkan anak-anak mereka yang berumur empat tahun setengah di kastilku. Tentu karena Ibu mendesak ingin menghabiskan waktu dengan cucunya.

    last update최신 업데이트 : 2026-03-31
  • Aku Dan Tuan Duke   118. Proposal

    Rumah tanggaku telah berakhir. Aku resmi menjadi seorang duda. Tentu agak alot dan sukar, namun aku berhasil meyakinkan pengadilan dan gereja agar bisa mempermudah perceraian kami.Sofia, si perempuan tidak tahu diri itu meminta Kastil Marie sebagai syarat untuk bercerai. Seorang pria bernama Vadim,

    last update최신 업데이트 : 2026-03-31
  • Aku Dan Tuan Duke   112. Gubuk

    Begitu berat aku meninggalkan Ibu sendiri di kastil. Aku harus pergi lagi. Tetapi ... sepertinya sekarang Ibu jauh lebih tegar. Ia mencium keningku sebelum aku berangkat ke wilayah timur. Aku juga telah mengirim sebuah surat kepada Sofia akan kepergianku. Aku tak berharap ia akan membalas.

    last update최신 업데이트 : 2026-03-30
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status